Sabtu, 09 Desember 2017

Tantangan Melatih Kemandirian (10)

Batujajar
Sabtu, 9 Desember 2017

Kemarin adalah hari yang bersejarah. Tiba-tiba Abi mengajak Kaysan untuk berenang. Kaysan bahagia sekali. Memang kami belum pernah mengajaknya ke kolam renang lagi setelah kunjungan perdana di tahun 2014. Kala itu, Kaysan yang masih berusia 1 tahun ternyata belum berani mencoba. Setelah itu di bulan Oktober kami pernah menghadiri acara kumpul komunitas di rumah pribadi yang memiliki kolam renang mini. Disanalah terlihat ternyata Kaysan sudah mulai antusias untuk berenang.

Kemarin Kaysan sangat antusias. Di depan loket dia sudah mencopot sandal, padahal belum sampai di area kolamnya. Begitu memasuki area kolam, Kaysan langsung membuka celana, meninggalkan begitu saja celananya di lantai pintu masuk hahaha.. 

Setelah bersiap-siap dahulu bersama Abi, Kaysan akhirnya langsung nyebur ke kolam. Kebetulan waktunya bersamaan dengan jadwal berenang anak sekolah sebuah TK. Jadilah disana ramai sekali. Kaysan di kolam di bawah pengawasan abinya, tapi saya tetap ikut mengawasi dan sering merasa khawatir. Teriak ini itu pada abinya jika saya rasa kondisi Kaysan sudah kurang aman. 

Melihat anak yang lain memakai ban pelampung, Kaysan pun ingin memakai ban pelampung. Nah saat itulah, ummi sebenarnya khawatir karena ini pengalaman pertama Kaysan dilepas tanpa dipegang. Tapi teringat tugas kita untuk memotivasi. Akhirnya saya coba hilangkan perasaan itu dan mempercayai kalau Kaysan bisa. Lagipula, ada abinya yang mengawasi dalam jarak dekat. Alhamdulillah ternyata Kaysan sangat menikmati aktifitasnya di  kolam renang. Ia berani kesana kemari hanya dengan bantuan pelampung. Untuk ke sekian kali saya harus berkata: 

Ternyata dia bisa!
Saya harus percaya!



Love,
dienemon

#HariKesepuluh
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Kamis, 07 Desember 2017

Tantangan Melatih Kemandirian (9)

Batujajar
Jumat, 8 Desember 2017

Kemarin Kaysan ngapain ya?
Atau lebih tepatnya, kemarin ummi ngapain ya?
Kemarin, saat melihat ada mangkok kecil plastik bekas Kaysan ngemil, ummi meniatkan diri untuk kembali melatih diri ummi juga melatih Kaysan. Iya, ummi akan meminta Kaysan yang mencucinya.

Sebenarnya sudah pernah beberapa kali Kaysan mencoba mencuci piring, tapi biasanya saya minta dia mengerjakannya di kamar mandi karena posisi bak cuci piring masih terlalu tinggi untuk dia. Kali ini, saya membolehkannya mencuci piring di bak cuci piring. Ia saya minta untuk naik ke kursi plastik agar tingginya jadi sesuai. Mendengar saya memintanya untuk cuci piring, Kaysan nampak sedikit tak percaya. Mungkin dalam pikirannya dia berkata

"Sumpeh loh, mi? For real???"

Hehehe...



Saya membersamainya, mencoba memberitahu cara mencuci mangkok yang ia pegang. Kaysan nampak senang sekali bisa diberi kepercayaan untuk mencuci piring. Yang ia cuci kemarin dua mangkok kecil dan dua sendok kecil. Selesai mencuci, Kaysan bilang

"Sekarang aku udah bisa ya mi... Nanti klo ada piring plastik yang kotor lagi, semuanya aku yg cuci. Kan aku udah bisa!"

Selain mencuci piring, kemarin Kaysan juga membantu ummi lagi membuat kue. Kali ini kami membuat kue SAEMPRIT. "Kue yang sedikit donk" kata Kaysan hahaha...
Kaysan membantu persiapan, saat mengaduk adonan dan memberi choco chip pada kue.




Alhamdulillah, pada tantangan melatih kemandirian ini justru ummi lah yang banyak belajar.
Belajar mempercayainya anak, melatih kesabaran, melatih kepekaan terhadap keinginan besar dari Kaysan untuk bisa melakukan banyak hal, dan lain-lain. Semoga ummi dan Kaysan sama-sama banyak belajar dari tantangan game level 2 ini.

Love,
dienemon

#HariKesembilan
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Rabu, 06 Desember 2017

Tantangan Melatih Kemandirian (8)

Batujajar
Kamis, 7 Desember 2017

Tak terasa tantangan game level dua kuliah bunsay sudah sampai hari ke-8. Setelah di sepekan kemarin  fokus di melatih Kaysan dalam bab makan sendiri, di hari ke delapan sebenarnya ummi masih bingung bab apa lagi yang sekiranya lebih prioritas untuk dilatihkan setelah makan sendiri. 

Teringat materi bahwa anak usia 3-5 tahun itu sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya, seperti meniru perilaku orang dewasa dan ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya, maka ummi memilih untuk fokus dalam bab ini. Sebenarnya, ini sih ummi yang berlatih. Berlatih untuk mulai percaya pada Kaysan dan berlatih kesabaran dalam prosesnya. Hehe...

Kemarin, malam hari, Kaysan merengek meminta ummi membuatkan kue manis untuknya. Sudah dinego agar meminta abi membawa oleh-oleh saja sepulang kerja, Kaysan tidak mau. Inginnya kue buatan ummi. Demi tidak mendengar lagi rengekannya, eh, demi mulai berlatih melatih kemandirian Kaysan dan kesabaran ummi, akhirnya ummi mengiyakan. 

Ummi meminta Kaysan untuk ikut membantu menyiapkan bahan-bahan kue. Ia sudah terbiasa bertanya, apa saja bahan yang diperlukan dan juga bertanya "Udah googling resepnya belum mi?" Hahaha...

Ia membantu saya membawakan tepung terigu, membawakan gunting, membawakan mentega, mengeluarkan timbangan dari kardus, membawakan tepung maizena dari tempatnya,  membawakan tisu, serta membawakan telur. Saat semua bahan sudah dimasukkan ke dalam wadah dan siap dikocok menggunakan mixer, dia yang membantu membawa wadahnya ke ruang tamu (berhubung stop kontak di dapur tak bisa dipakai). Ummi deg-degan sebenarnya, tapi berlatih memberi Kaysan kepercayaan. Alhamdulillah wadahnya bisa sampai dengan selamat 😂

Tibalah saat mencetak kue. Ummi yg mencetak dan ummi memberi Kaysan tugas untuk memberi topping keju parut yang sudah ummi siapkan. Ummi yang merupakan orang tipe visual, sangat diuji ketika Kaysan menaruh kejunya berantakan hahaha... Lagi-lagi, ummi berlatih. Sambi terus memberi contoh, ummi membiarkan Kaysan melakukan tugasnya. 

Alhamdulillah akhirnya kue selesai dicetak dan masuk oven. Melihat wadah-wadah dan peralatan yang digunakan untuk membuat kue berserakan di lantai, Kaysan ternyata berinisiatif membereskannya.

"Ummi, ini udah selesai dipake semuanya?"

"Iya udah, tinggal dibakar di oven kan kuenya. Kenapa?"

"Yaudah aku beresin ya mi, aku simpen ke tempat cuci piring"



Wah..... Alhamdulillah. Ummi bahagia, sesi pelajaran hari ini berujung manis hehe...

Setelah kue matang, Kaysan senang sekali. Lalu tanpa diminta, dia berkata 



"Terima kasih ummi cantik sudah membuatkan kue untukku"

Ah, sepertinya malam ini ummi akan tidur nyenyak sekali hahaha...

Love,
dienemon

#HariKedelapan
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Selasa, 05 Desember 2017

Tantangan Melatih Kemandirian (7)

Batujajar
Rabu, 6 Desember 2017

Tantangan melatih kemandirian di game level 2 kuliah Bunda Sayang IIP memberi arahan untuk melatih satu keterampilan dalam satu pekan (one week, one skill). Maka hari ini adalah hari terakhir Ummi melatih kemandirian bab makan sendiri pada Kaysan. Mudah-mudahan waktu satu pekan ini cukup sebagai permulaan bagi Kaysan agar di waktu yang akan datang lebih mandiri lagi dalam hal makan sendiri. 

Kali ini kami sudah pulang lagi ke rumah. Seperti biasa Kaysan enggan jika diajak pulang. Ia lebih betah jika sedang berada di rumah neneknya. Tapi alhamdulillah akhirnya dia mau diajak pulang meski di menit-menit terakhir. Setelah sholat Dzuhur, kami baru bisa pulang ke rumah. Sesaat kemudian, Abi sudah pergi kerja. 

Sebelum pulang tadi, nenek (seperti biasa) memberi oleh-oleh untuk dibawa ke Batujajar. Kali ini kami dibawakan buah-buahan. Ada mangga, jeruk, dan pir. Sore hari, Kaysan meminta mangga nya. Sementara Ummi menyiapkan pisau dan piring, Kaysan diminta untuk menyiapkan garpu. Ia membawa dua garpu, satu untuknya dan satu untuk Ummi. Setelah buah mangga nya dikupas, saya memintanya untuk tetap makan di meja meski hanya makan buah. Ini dia fotonya:



Alhamdulillah, mangga nya habis dimakan Kaysan dan Ummi. Kaysan sempat memikirkan Abinya. Dia bilang karena Abi tidak kebagian mangga, nanti Abi makan jeruknya saja. Hehe...

Itulah cerita Kaysan hari ini. Mulai besok, Ummi akan melatih keterampilan yang lain lagi pada Kaysan. Kira-kira apa ya? 
Kita lihat besok 😉

Love,
dienemon

#HariKetujuh
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Senin, 04 Desember 2017

Tantangan Melatih Kemandirian (6)

Cimahi
Selasa, 5 Desember 2017

Kemarin kami masih ada di Baros. Pagi hari Ummi dan Abi harus ke bank untuk mengurus sesuatu. Dan seperti sudah diduga ternyata menghabiskan waktu yang lama sekali. Kombinasi sempurna dari hari Senin setelah long weekend dan di awal bulan. Tak ada kursi tunggu yang kosong. Sehingga sepulang dari bank, kami memutuskan untuk tetap di Baros saja karena sudah hampir dekat ke waktu Abi harus pergi kerja.

Saat disini, Kaysan memang biasanya agak sulit dikondisikan. Beberapa aturan yang biasa diterapkan di rumah, seperti tak berlaku disini hehe... Termasuk urusan makan. Seperti kondisi kemarin saat Ummi harus pergi, ternyata Kaysan masih disuapi makannya. Atau saat hanya ditinggal bersama nenek dan uwa, tentu saja mereka lebih memilih menyuapi Kaysan daripada anak titipan ini kelaparan hehe...

Tapi kemarin alhamdulillah Ummi berhasil membujuk Kaysan untuk makan sendiri seperti di rumah. Karena tidak ada meja yang sesuai ukurannya untuk Kaysan, akhirnya Ummi memanfaatkan apa saja yang ada. Dan inilah Kaysan saat makan sendiri di rumah nenek. 



Ya, Kaysan makan dengan duduk di lantai dan menggunakan meja darurat yaitu kursi plastik kecil. Alhamdulillah ini tetap memudahkan dia untuk makan sendiri. Ada kemauan, ada jalan. Memang kitalah ternyata yang harus tetap kreatif mencari cara dalam melatihkan kemampuan apapun terhadap anak. Semoga Allah mudahkan. Aamiin.

Love,
dienemon

#HariKeenam
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian


Minggu, 03 Desember 2017

Tantangan Melatih Kemandirian (5)

Cimahi
Senin, 4 Desember 2017

Hari Minggu kemarin, saya mengikuti acara yang dijadwalkan dimulai pada pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 16.00. Beberapa hari sebelumnya, saya memberitahu Kaysan mengenai acara ini. Acara ini sebenarnya memperbolehkan saya untuk membawa anak tapi saya merasa durasinya terlalu lama untuk Kaysan ikut. Apalagi bentuk acaranya sebenarnya pelatihan yang menuntut saya untuk lebih fokus. Maka, setelah mengadakan dialog khusus dengan Kaysan, hehe, dicapailah kesepakatan bahwa Kaysan akan dititip saja di rumah neneknya.

Sebagai hadiah karena dia sudah setuju untuk ditinggal, maka saya dan suami mengatur jadwal agar di pagi hari kami sempat mengunjungi pasar kaget Minggu. Itupun juga dengan perjanjian di awal. Bahwa Kaysan hanya boleh memilih satu permainan saja dan membeli satu jenis makanan saja. Kenapa? Karena saya harus memastikan waktunya cukup untuk saya menghadiri acara tepat waktu. 

Alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana. Pagi hari kami sempat mengunjungi satu pasar kaget. Pulang ke rumah nenek, kami masih sempat beristirahat sebelum akhirnya saya bersiap untuk pergi diantar oleh suami. Suami sebenarnya juga harus masuk kerja lembur tapi masuknya siang hari yaitu pukul 12.00. Jadi setelah suami mengantar saya, ia masih bisa membersamai Kaysan.

Menurut suami, Kaysan menuruti apa yang saya anjurkan. Yaitu pergi ke tukang cukur untuk memotong rambutnya sekalian memotong rambut suami. Setelah itu mandi. Tapi, saat makan siang, suami menyuapi dia 🤣
Dalam kondisi seperti ini saya juga jadi agak sulit memaksa suami. Karena mungkin dia juga melihat situasi dan kondisi di rumah ibu saya. Kaysan mungkin akan lebih memilih menolak makan daripada harus susah-susah makan sendiri. Baiklah, ini mungkin harus jadi evaluasi ke depannya. Mengatur strategi agar dimanapun berada, Kaysan tetap mau berusaha menjadi mandiri.

Sore hari saat saya baru saja pulang, Kaysan meminta untuk dibelikan baso. Dia meminta uang dan pergi sendiri ke  tukang baso keliling yang berjarak sekitar 7 meter saja dari rumah nenek. Dia pun makan sendiri basonya, tapi saya tidak sempat mengabadikannya karena saya juga sibuk makan baso. Hehehe...



Pun ketika malam hari dia memakan keripik singkong, Kaysan mengambil sendiri piring kecil yang akan digunakannya. Alhamdulillah, meski di siang hari ada latihan yang terlewat, di sore dan malam hari Kaysan mau berlatih lagi. 

Love,
dienemon

#HariKelima
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Tantangan Melatih Kemandirian (4)

Cimahi
Minggu, 3 Desember 2017

Sabtu kemarin saya tidak masak lauk pauk untuk makan siang. Saya harus pergi untuk acara di pagi hari bersama Kaysan dan saat kembali ke rumah, waktu sudah hampir siang. Saya tidak punya bahan masakan untuk diolah. Maka solusinya adalah meminta tolong suami yang bekerja setengah hari saja untuk mampir sepulang kerja membeli lauk. Kaysan mendapat lele goreng yang dia suka.



Alhamdulillah, seperti terlihat dalam foto, Kaysan masih mau tertib administrasi makan sendiri di meja. Karena lauknya ikan lele goreng, saya memintanya untuk hati-hati. Pada awalnya dia bisa memilih bagian mana yang tidak ada durinya. Tapi lama kelamaan, dia meminta bantuan saya untuk memilihkan daging ikan yang tak ada durinya.

Entah keputusan saya tepat atau tidak, meski teringat poin jangan memberi bantuan terlalu cepat, saya tetap membantunya. Saya pikir memang ini sudah layak untuk dibantu, demi keselamatannya hehe... Melatih anak mandiri menurut saya juga tetap harus memperhatikan faktor keselamatan. Seperti halnya anjuran untuk mengatur rumah agar ramah anak yang artinya memudahkan anak. Maka mengatur agar makanan yang akan dimakan oleh anak dalam kondisi yang memang mudah untuk disantap sendiri juga setara dengan itu. 

Setelah saya memisahkan daging ikan yang sudah aman dari duri, Kaysan melanjutkan makannya sampai habis. Alhamdulillah...
Lanjutkan berlatihnya ya, Kei!

Love,
dienemon

#HariKeempat
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Sabtu, 02 Desember 2017

Tantangan Melatih Kemandirian (3)

Batujajar
Sabtu, 2 Desember 2017

Jumat kemarin bertepatan dengan hari libur dalam rangka peringatan hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Hujan sudah turun dari pagi hari. Sehingga keinginan jalan-jalan harus berbenturan dengan kondisi alam. Akhirnya pagi hari hanya kami habiskan di rumah saja.

Jelang siang cuaca mulai bersahabat, kami pun akhirnya memutuskan untuk pergi keluar. Tujupan pertama adalah rumah nenek karena waktunya sudah dekat dengan saat sholat Jumat. Setelah itu, barulah kami pergi jalan-jalan. Kali ini jatah Kaysan untuk jalan-jalan, tak lain dan tak bukan pastinya Kaysan meminta diajak ke tempat permainan anak.

Setelah bermain, Kaysan yang memang belum sempat makan siang di rumah (nenek), meminta untuk membeli makan siang. Sebelum memesan makan, saya mengingatkan dan memotivasinya untuk makan sendiri seperti biasa. Kaysan mengiyakan. Barulah kami memesan makanan.

Setelah pesanan makanan datang, Kaysan pun makan sendiri dengan lahap. Alhamdulillah, meski kondisinya berbeda (makan di luar rumah) Kaysan tetap mau melatih kemampuannya. 



Love,
dienemon

#HariKetiga
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Kamis, 30 November 2017

Tantangan Melatih Kemandirian (2)

Batujajar
Jumat, 1 Desember 2017

Awal bulan di bulan terakhir tahun 2017 ini. Jumat berkah yang bertepatan dengan hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Tanggal merah dan suami tidak lembur harusnya jadi waktu yang asyik untuk jalan-jalan. Tapi pembahasan tentang tujuan jalan-jalan ternyata belum menemukan ujungnya sampai detik ini. Mau ke "kota" pasti kena macet, coba bayangkan long weekend di awal bulan seperti ini. Mau ke "alam", cuaca sedang tidak bersahabat.

Ah sudahlah, kita kerjakan dulu yang sudah pasti. Setor tantangan melatih kemandirian. Hehehe...

Kemarin adalah hari kedua Kaysan berlatih lebih baik lagi dalam hal makan sendiri. Alhamdulillah di semua waktu makan, Kaysan mau tertib makan di meja. Satu kemajuan di hari kemarin adalah ketika ia setuju untuk makan sendiri meski menu makannya adalah ayam goreng kesukaannya. Apa sih kemajuannya?

Jadi biasanya jika menu makan adalah ayam goreng, ia akan beralasan tidak bisa makan sendiri. Kaysan akan meminta saya untuk membuat "gunung-gunung" nasi dan daging ayam yang siap santap, barulah ia memasukkan sendiri ke mulutnya. Kemarin saya mencoba memotivasinya lagi. Saya bilang Kaysan makannya langsung menggunakan tangan saja tanpa sendok. Itu akan lebih mudah saat ia makan dengan menu ayam goreng. Saya katakan dia boleh mengigit ayamnya atau diambil sedikit-sedikit.
Alhamdulillah Kaysan mau mencoba, bahkan sambil saya tinggal untuk mandi (biasanya selalu minta ditemani saat makan).
Selesai mandi, saya lihat Kaysan masih menikmati makannya meski nasi masih ada yg berceceran dan mulut serta pipinya jadi penuh minyak. Hehehe...



Di waktu makan yang berikutnya, Kaysan mau mencoba kembali. Kali ini saya lihat dia terlalu asyik dengan ayam gorengnya sehingga melupakan sang nasi. Saya sudah coba mengingatkan namun rupanya dia tetap asyik menggigit ayam goreng. Dan seperti yang sudah saya duga, daging ayam habis sementara nasi masih tersisa  cukup banyak.

"Kay, gimana donk sekarang tinggal nasinya doank?"

"Ya ngga apa-apa, mi..  Makan aja nasinya. Aku mah ngga apa-apa."

Untungnya masih ada sisa jamur crispy yang sebelumnya sudah dicemil oleh Kaysan. Jadilah sang nasi memiliki teman kembali. Dan Kaysan akhirnya menghabiskan makannya.

Alhamdulillah, mudah-mudahan Kaysan semakin konsisten di hari-hari berikutnya.

Love,
dienemon

#HariKedua
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Tantangan Melatih Kemandirian (1)

Batujajar
Kamis, 30 November 2011

Akhir bulan November ini, materi baru kelas Bunda Sayang sudah diberikan. Kali ini tentang melatih kemandirian. Seperti materi sebelumnya, setelah materi diberikan maka ada tantangan selama (minimal) 10 hari yang harus dilakukan. 

Tantangan kali ini akan saya latihkan kepada Kaysan yang kebetulan di momen pertambahan usianya di bulan Oktober lalu telah bersepakat dengan kami orangtuanya untuk belajar lebih mandiri. Diantaranya sebagai berikut: mandi sendiri, makan sendiri, memakai baju sendiri, membersihkan diri sendiri setelah buang air besar. 

Semangat menjadi mandiri ini cukup kuat di awal namun mengendur seiring waktu. Baik di diri Kaysan sendiri maupun di diri kami sebagai orangtua. Hehe..
Adanya tantangan ini seperti memacu lagi semangat yang luntur itu agar kami bisa sama-sama lebih konsisten melatih kemandirian Kaysan. 

Maka kemarin, saya mencoba lebih memotivasi Kaysan agar mau berlatih mandiri: bisa makan sendiri. 
Alhamdulillah Kaysan sudah terbiasa mengambil sendiri alat makan yang akan digunakan (bahkan sudah bisa dimintai tolong oleh saya dan suami). Ini dikarenakan tempat menyimpan alat makannya memang mudah dijangkau. Yang masih jadi PR bagi kami adalah saat proses makan itu sendiri. Kaysan terkadang masih minta disuapi. Saya biasanya bertahan. Namun suami masih terkadang mengalah. Sepertinya harus kembali ke materi komunikasi produktif dengan suami yah hehe...

Kemarin saya memotivasi Kaysan sebelum dia memulai sarapan. Saya katakan mulai hari ini, kita berlatih lebih baik lagi. Alhamdulillah Kaysan cukup kooperatif. Saya memintanya untuk makan di meja. Ini sebenarnya tidak saya minta sebelumnya. Karena memang di rumah tidak ada meja makan khusus dan kami terbiasa makan bersama beralaskan karpet di lantai hehe...
Saya mencoba memberitahu apa manfaat jika Kaysan mau makan dengan tertib di meja (yang kebetulan memang ukurannya pas untuk anak seusianya). Dia menurut. Makanan yang tersaji di piring masih saya yang menyiapkan. Termasuk memotong lauk yang akan dimakan. Untuk hal ini saya sebenarnya sudah mencoba memotivasi Kaysan untuk mencobanya sendiri tapi nampaknya belum berhasil. Kaysan masih bersikeras agar saya yang menyiapkan lauk dalam kondisi sudah terpotong kecil-kecil. 



Saya pikir Kaysan memang masih berproses dan saya harus mau menerima ketidaksempurnaan sebagaimana yang disebutkan dalam materi. Dia sudah mau menurut untuk makan tertib di meja saja itu sudah merupakan kemajuan yang harus saya apresiasi dan syukuri. Setidaknya dia sudah menunjukkan kemauannya untuk berlatih lebih baik lagi dalam hal makan sendiri.

Alhamdulillah, hasi daril hari pertama tantangan ini cukup membuat saya optimis. Insya Allah saya, suami dan Kaysan bisa semakin bersinergi lagi di hari-hari tantangan yang akan datang. 

Love,
dienemon

#HariPertama
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Sabtu, 25 November 2017

Aliran Rasa (Materi Komunikasi Produktif)

Cimahi
Sabtu, 25 November 2017


Kata-kata atau pilihan bahasa tak pernah turun dari langit begitu saja, tetapi lahir secara ideologis meski pembuatnya sendiri kadang tak menyadarinya
(Edi Santoso, 2010)




Secara kebetulan (walau sebenarnya tidak ada yang kebetulan di dunia ini), tadi pagi membaca kalimat di atas yang dimuat dalam fitur catatan di Facebook yang saya tulis di tahun 2010. Lalu siang ini diingatkan bahwa ada tugas untuk menuliskan aliran rasa mengenai materi komunikasi produktif di kelas Bunda Sayang IIP.
Ah, nyambung banget ini mah...

Ya begitulah ternyata, kata-kata/pilihan bahasa kita dipengaruhi oleh banyak faktor.
Adanya materi komunikasi produktif menjadi salah satu faktor yang memberi perbedaan yang cukup signifikan dalam cara saya memilih kata.
Menjalankan tantangan selama 10 hari sama artinya dengan melatih diri ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam berbahasa, khususnya dengan Kaysan.

Saya menggambarkannya seperti memiliki sebuah alarm bahasa. 
Saat akan berbicara dengan Kaysan, saya mulai terbiasa menahan diri untuk kemudian berpikir apakah ini tepat atau tidak (sambil mencoba mengingat poin-poin materi yang diberikan).
Dan jika terlanjur membuat kesalahan, saya menyadarinya kemudian.
Bagi saya ini sudah merupakan awal yang baik.
Menahan diri dan menyadari kesalahan dalam berbahasa insya Allah akan menjadi pembuka jalan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam berbahasa.
Tentu saja harus dilanjutkan dengan pembiasaan terus menerus serta menambah lagi pemahaman tentang ilmu komunikasi produktif.

Intinya, saya sangat bersyukur bisa menjalankan tantangan ini. Mendapat ilmu baru dan ilmunya terasa sangat bermanfaat. Mudah-mudahan saya bisa terus mencoba memperbaiki lagi pola komunikasi saya meski tak lagi ada "tugas resmi" yang harus dilakukan.
Aamiin.

Love,
dienemon

Sabtu, 11 November 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Bunsay (10)

Cimahi
Sabtu, 11 November 2017

Hari ini masih beraktifitas di Cimahi. Ya begitulah, kami masih sangat sering bolak balik ke Cimahi karena satu dan banyak hal. Sabtu pagi ini Kaysan ada jadwal Posyandu disini. Meskipun sudah pindah ke Batujajar, "keanggotaan" Kaysan di Posyandu sini tidak saya cabut. Selain itu, suami yang masuk kerja siang hingga sore dilanjutkan dengan lembur juga tidak akan pulang karena ada acara yang mengharuskan ia bermalam di tempat acara. Jika ada kondisi seperti ini, saya dan Kaysan pasti minta diungsikan ke Cimahi. Apalagi kali ini memang sudah di Cimahi sejak Kamis.

Sehari-hari di rumah Batujajar, Kaysan tidak kami izinkan mengakses YouTube dan kami pun sudah tak menyalakan televisi sejak berbulan-bulan yang lalu. Tapi jika sedang di Cimahi, Kaysan bisa sangat sering menonton tayangan televisi atau YouTube. Hehe.. Ini masih menjadi PR kami. Jika sedang di Cimahi, saya akan lebih banyak berkegiatan di dunia nyata. Mengobrol dan beraktifitas lain bersama ibu dan kakak-kakak yang kebetulan masih tinggal di rumah ibu. Kaysan disini ada teman main, tapi jika sedang tidak bermain, pasti dia akan meminta menonton televisi/YouTube.

Keasyikan saya dan keasyikan Kaysan ini sangat berpengaruh pada kegiatan Kaysan sehari-hari. Kaysan terkadang jadi seperti lupa akan rasa lapar (selain karena disini bisa jajan) dan saya pun seperti lupa ada anak yang belum makan 🙈 Jadilah makannya kurang teratur. Begitu juga dengan kebiasaan sholat Kaysan. Jika di rumah Kaysan lebih mudah untuk diajak sholat, bahkan sering juga tak perlu diajak dan malah ia yang mengajak saat mendengar adzan maka disini Kaysan seringnya harus selalu diingatkan jika sedang asyik menonton. Tak jarang berujung tangisan dan akhirnya tak sholat di masjid.

Sejak Kamis ini, saya mencoba cara lain. Saya langsung beranjak sambil mengajaknya ke masjid (jika abinya sedang bekerja). Biasanya saya hanya menyuruhnya untuk segera sholat agar ia bisa ikut berjamaah. Saya tidak bisa ikut karena belum siap untuk ikut sholat dan disini sholat dimulai segera setelah adzan selesai. Dan ternyata sekarang lebih mudah. Kaysan tanpa diminta menghentikan aktifitasnya dan mengikuti saya ke masjid. Ketika sejak kemarin kebetulan saya sedang tidak wajib sholat, saya tetap beranjak ke masjid saat adzan tiba. Alhamdulillah, cara ini ternyata jauh lebih efektif. Sejauh ini Kaysan tidak menolak. Entah ini masuk ke poin mana dari materi komunikasi produktif. Tapi saya merasa ini salah satu proses yang saya lewati setelah mencoba menerapkan tantangan komunikasi produktif. Meminimalisir adu argumen dengan anak empat tahun itu hehe...

(Kaysan saat sholat Dzuhur berjamaah tadi siang)


Ya ternyata hanya dengan sedikit usaha yaitu saya menyiapkan diri sebelum adzan berkumandang, Kaysan bisa lebih mudah untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Mungkit memang tak mudah untuk mengalahkan rasa malas, tapi ketika sekali saja berhasil mengalahkannya, ada rasa yang tak bisa diungkapkan. Apalagi ternyata hal itu membawa kebaikan yang besar. Memang benar kata pepatah, proses tak akan mengkhianati hasil.

Love,
dienemon

Jumat, 10 November 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Bunsay (9)

Cimahi
Jumat, 10 November 2017

Hari ini kami masih di Cimahi. Rencana pulang dibatalkan karena ternyata saya masih dibutuhkan disini untuk membantu menjaga keponakan saya. Bergantian dengan kakak yang hampir sepanjang malam menemani si bayi yang ternyata tak mau tidur. Ini memang pertama kalinya keponakan saya ditinggal menginap, sehingga ia tak terbiasa tidur tanpa ibunya.

Siang hari selepas sholat Jumat, hujan turun sangat deras disini. Suami terpaksa tetap pergi kerja karena memang sudah tak bisa ditunda lagi keberangkatannya jika tak mau terlambat masuk kerja. Selayaknya perasaan seorang istri, saya sebenarnya sangat khawatir. Berpesan ini dan itu pada suami dan tak lupa memintanya untuk segera memberi kabar jika sudah sampai di tempat kerja.

Saya iseng mengajak Kaysan ngobrol setelah abinya pergi.

"Kay, Ummi khawatir sama Abi. Perginya lagi hujan besar. Gimana ya caranya supaya Ummi tenang?"

"Ya tinggal berdoa lah kalau mau tenang mah" 😇

"Oh iya, berdoanya gimana?"

"Ah aku ngga mau bilang, kan Ummi suka denger aku berdoa kalau lagi hujan*

Hehehe....




Karena hujan yang sangat deras, air menggenang di depan rumah. Memang disini seperti itu jika sedang hujan besar, tapi nanti akan segera surut saat hujannya reda. Yang berbeda, kali ini airnya hitam pekat sekali. Biasanya airnya bening. Kaysan dan Fadli, keponakan saya, sangat tertarik memperhatikan banjir ini.

Alhamdulillah akhirnya hujan mereda. Genangan pun perlahan surut. Dua keponakan saya yang lain yang sudah sekolah di tingkat SD, tak bisa menahan keinginan untuk bermain di luar. Kaysan? Tentu saja ingin bergabung. Apalagi sebelumnya saya juga keluar untuk menyikat jalan di pinggir dan depan rumah agar tanah kotornya tidak tertinggal disana. Saya tidak membolehkannya karena dia sedang kurang fit badannya. Tapi Kaysan tak berhenti berusaha membujuk saya untuk mengizinkannya bermain dan saya tetap menolak. Kaysan tak berhenti bertanya mengapa dua orang sepupunya diperbolehkan untuk bermain sementara dia tidak. Hmm...

Saya yang mulai terganggu dengan pertanyaannya, hehe, lalu teringat materi komunikasi produktif. Oh, mungkin saya memang salah langsung memberi penolakan apalagi ditambah bumbu intonasi yang tidak ramah. Baiklah, saya mencoba berempati dulu sesuai teori.

"Kaysan ingin ikut turun ya sama aa Farid dan aa Raffa? Ingin hujan-hujanan?"

"Iya Ummi..."

"Iya Ummi tau Kaysan seneng ya hujan-hujanan, tapi Kaysan kan lagi anget badannya. Terus itu airnya kotor banget Kay, biasanya kan bening. Nanti aja ya kalau airnya udah berkurang? Sabar dulu ya..."

Kaysan masih terlihat kecewa, tapi kali ini dia tak terus bertanya lagi seperti  sebelumnya.

Tak lama, hujannya nyaris berhenti total, air pun sudah surut. Menyisakan yang mengalir di saluran air saja. Saya memberitahu Kaysan kalau dia sudah bisa mulai bermain.

"Ayo Kei, udah boleh sekarang. Hati-hati yaa, masih licin..."

Tanpa menunda lagi, Kaysan langsung turun. Dia meminjam sikat yang tadi saya gunakan untuk dia pakai. Dan dia sangat bahagia 😂

Alhamdulillah, satu lagi praktek tantangan komunikasi produktif bisa dilaksanakan. Semoga semakin sering melatih diri, semakin diri ini terbiasa membunyikan alarm saat ada momen-momen dimana komunikasi produktif itu tidak dipraktekkan. Sehingga kesalahan yang dilakukan bisa segera diperbaiki.

Love,
dienemon





Kamis, 09 November 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Bunsay (8)

Cimahi
Kamis, 9 November 2017

Selamat malam dari Cimahi yang sedang hujan!
Jelang siang hari tadi, kami pergi dari Batujajar menuju Cimahi. Karena ada beberapa keperluan di Cimahi dan memang sudah rencana menginap untuk membantu menjaga keponakan saya yang malam ini ditinggal ibunya pergi tugas ke luar kota.

Saat persiapan pergi, Kaysan menolak saat diminta untuk mandi. Saya yang masih mencuci piring di dapur mendengarkan percakapan suami dengan Kaysan. Kaysan tetap masih menolak mandi meski suami saya sudah mengingatkan jika kami harus bersegera karena akan ada beberapa agenda dulu sebelum kami ke rumah neneknya.

Saya mencoba ikut bicara dengan mengganti atau mungkin sebenarnya hanya melengkapi kalimat yang suami saya gunakan sebelumnya ("Kaysan ayo cepetan mandi, kita kan mau pergi, nanti Abi telat lho kerjanya kalau Kaysan ngga mandi sekarang", dengan intonasi yang agak meninggi karena tak kunjung dituruti)

Ini yang saya katakan pada Kaysan tadi:

"Kaysan, kalau mau jadi ke rumah nenek, kita harus bersegera. Abi kan mau pergi kerja. Jadi kita harus siap dari sekarang karena kita harus ke bengkel dan bank dulu. Kalau tidak bersegera, kita ngga bisa pergi karena keburu Abi harus berangkat kerja. Ngga cukup waktunya. Gimana? Kaysan mau mandi sekarang?"

Alhamdulillah... Manjur!
Padahal kalimatnya kurang lebih sama. Alasannya sama. Mungkin hanya beda di intonasi karena saya mencoba menahan diri walau sebenarnya sudah ikut gemes. Hahaha...
Nah disitulah mungkin pembuktian betapa intonasi memang sangat mempengaruhi hasil dari sebuah komunikasi.



Cerita berikutnya saat kami sudah sampai di rumah Cimahi. Tiba-tiba saya merasa suhu tubuh Kaysan lebih hangat dari suhu tubuh normal. Saya memintanya untuk tidur siang. Sore harinya, saya memintanya untuk makan. Kaysan menolak dengan berbagai macam alasan. Tarik nafas, keluarkan. Tarik nafas, keluarkan. Lalu teringatlah saya kalau saya pernah menjelaskan tentang bagaimana tubuh kita harus kuat melawan penyakit.
Oke, kita coba pakai cerita itu ya!

Mulailah saya berbicara. Dimulai dengan membahas suhu tubuhnya yang agak lebih hangat. Saya bilang itu artinya tubuhnya memberitahu kalau sedang ada kuman penyakit yang mau menyerang. Tubuhnya harus kuat. Ia harus memberi kekuatan pada tentara-tentara di tubuhnya agar tak kalah berperang dari kuman penyakit. Jika ia tidak mau makan, maka tentara-tentaranya akan merasa lemas dan tak kuat melawan penyakit. Saya katakan padanya bahwa ia boleh memilih. Mau menunda makan atau tidak setelah mendengar penjelasan saya.


Saya tak memaksanya lagi. Saya hanya katakan, kalau ia sudah mau memberi makan tentara-tentara dalam tubuhnya, ia boleh memanggil saya untuk menyiapkan makannya. Mungkin hanya butuh waktu tak lebih dari satu menit, Kaysan meminta saya untuk menyiapkan makannya. Alhamdulillah. Kaysan pun akhirnya menyelesaikan makannya dalam waktu yang singkat saja. Iya, jauh lebih lama waktu untuk membujuknya daripada durasi makannya. Fiuh banget 🤦

Itu cerita yang bisa saya bagi hari ini. Mudah-mudahan tentara-tentara di tubuh Kaysan menang sehingga Kaysan bisa kembali fit. Mudah-mudahan saya dan suami juga selalu menang melawan hawa nafsu sehingga bisa lebih terampil dalam berkomunikasi dengan Kaysan. Hehehe...
Aamiin...

Love,
dienemon

Rabu, 08 November 2017

Menghadirkan Surga di Dunia

Ustadz Salim A. Fillah
Jumat, 13 Oktober 2017
DPD PKS KBB
Komp. Permata, Bandung Barat

Tema: Menghadirkan Surga di Dunia Sebelum Surga di Akhirat


❤ Cara menghadirkan surga di rumah kita yaitu ketika orientasi rumah tangga nya adalah berkah.

💛 Yang seperti apa berkah itu?
Berkah itu bertumbuh dan bertambah.

💚 Bagaimana menjadikan berkah sebagai orientasi hidup kita?

1. Memiliki iman karena berkah itu adalah nikmat iman.
2. Senantiasa bersyukur dan bersabar

💙 Jika mendapat nikmat, hendaknya bersyukur. Jika kita bersyukur, nikmat akan ditambah. Orang bersyukur itu lebay, tapi lebay yang benar dikarenakan tafakur yang benar.

💜 Jika mendapat musibah, hendaknya bersabar. Karena sabar itu baik bagi kita.

 Kenapa sabar baik untuk kita?

😇 _Sabar itu untuk memberi kabar gembira._
Hakikat musibah adalah untuk memberi kabar gembira.
Orang beriman meyakini *musibah* sebagai:
*sesuatu yang penggantinya lebih baik, yang pahalanya lebih besar di akhirat*

😇 _Orang sabar mendapat ucapan cinta dari Allah_

😇 _Allah beserta orang-orang yang sabar_

😇 _Orang sabar pahalanya disempurnakan oleh Allah, tanpa batas_

😇 _Sabar adalah amal yang ditakjubi malaikat._
Sehingga malaikat membuat perayaan utk orang sabar dengan memberi ucapan: *salam sejahtera atas kalian karena kalian telah bersabar.*

😇 _Ada shalawat dari Allah untuk orang yang sabar._
Mendapat shalawat dari Allah berarti merupakan jaminan kebaikan dan kasih sayang serta mendapat petunjuk

❤ Dalam sebuah keluarga, suami sholeh bukan orientasi hidup, juga bukan penghalang jadi mulia. Ingat kisah Asiyah istri Fir'aun. Kaya atau tidak juga bukan penghalang jadi mulia.

💛 Jika kita menginginkan sesuatu lalu memintanya pada Allah, penting untuk kita memikirkan jawaban yg akan diberikan pada Allah.
Saat kita kecil dan meminta sesuatu pada ibu, ibu akan bertanya "Untuk apa?"
Begitupun saat kita meminta kepada Allah. Allah akan bertanya untuk apa hal tersebut digunakan. Misal kita berdoa meminta kendaraan dan rumah pribadi, kita harus siap menjawab pertanyaan dari Allah. Digunakan untuk apa kendaraan dan rumah tersebut. Kita harus bisa membuat kendaraan dan rumah tersebut menjadi sesuatu yang berkah.

💜 Dalam hidup, bahagianya kita itu harus disebabkan oleh ketaatan, bukan karena  karunia yang kita terima. Karunia itu hanya efek samping dan di dunia ini sebenarnya tidak ada balasan sejati.

💚 ☘ Bagaimana cara menghadirkan surga di rumah kit?* ☘💚

1. Mengagungkan dan memuliakan pernikahan.
Keluarga adalah level terkecil peradaban. Suami harus memuliakan istri. Istri berasal dari tulang rusuk sebelah kiri: ia dekat ke jantung hati untuk dicintai, ia dekat ke tangan untuk dilindungi. Istri juga harus memuliakan suami.

2. Ruh suami-istri harus tersambung satu sama lain, kodenya adalah dien/iman.
Ini mengapa sekufu soal agama sangat ditekankan ketika memilih pasangan hidup.

3. Menghadirkan sakinah dalam rumah tangga.
Hadirnya istri menjadikan suami tercegah dari dosa yg dimurkai Allah, begitu sebaliknya.

4. Bisa membangun ikatan lahir batin dengan pasangan.
Penting bagi seorang suami untuk mengungkapkan cinta pada istrinya. Allah Maha Tahu tapi masih ingin mendengar hamba-hambaNya melafalkan cinta sebagai bukti cintanya, yaitu saat sholat.

5. Bisa menjadikan kecenderungan hati, pikiran, perasaan yang asalnya aku dan engkau menjadi kita.
Sudut pandang sudah berbeda, tidak lagi memikirkan diri sendiri.  Suami istri harus sampai bisa bicara tanpa kata, mengerti tanpa bicara.

6. Memunculkan rasa tentram saat bersama maupun saat berpisah.
Sebagai contoh, jalankan ritual pagi cegah korupsi berikut ini 😁:

Istri mencium tangan suami lalu izinkan suami mencium ubun-ubun istri. Disana kita saling mendoakan, saling menitipkan pada Allah.

***
Demikian resume kajian Ustadz Salim yang bisa saya catat. Semoga bermanfaat. Dan semoga kita bisa menghadirkan surga di rumah-rumah kita, aamiin.

Love,
dienemon

Tantangan Komunikasi Produktif Bunsay (7)

Batujajar
Rabu, 8 November 2017


Keep calm and blame it on PMS 😆

Ouch! Beberapa hari ini emosi saya tak stabil. Perasaan teu paruguh sudah mulai datang. Hari ini, sepertinya perasaan itu sudah mulai naik level ke level berikutnya.

Kisah dimulai dengan topik detergen. Alkisah, saya mencoba membeli detergen cair saat belanja bulanan. Sebelumnya saya terbiasa memakai detergen bubuk. Sebagai pemula, saya mencoba dulu untuk mengikuti petunjuk takaran di kemasan detergen. Ukuran yang digunakan menggunakan satuan mili liter atau menggunakan tutup botol sebagai alat ukur. Seketika saya sadar kalau saya malah membeli kemasan refill sehingga saya tidak memiliki tempat untuk menyimpan detergen tersebut dan jadinya harus menggunakan sendok detergen manual untuk menakar banyaknya detergen, kebetulan ada garis ukurnya disana. Teringat botol pewangi yang sudah kosong, saya pun menyimpan detergen tersebut disana dengan tetap menyisakan beberapa ml karena kapasitas botol pewangi lebih sedikit dari isi detergen cair kemasan refill.

Setelah mencoba memberi detergen cair sesuai petunjuk di kemasan, saya mengecek air di dalam mesin cuci. Dan ternyata, menurut penilaian saya, detergennya masih harus ditambah. Jika tadi saya memberi 30ml, kali ini saya menambahkan 30ml lagi. Setelah di cek kembali, rasanya sudah cukup untuk level air di mesin cuci yang saya pilih. Saya pun merendam cucian kemudian memilih untuk menyetrika. Semua cerita ini diketahui oleh suami karena saya mengerjakannya sambil live update dari dapur kepada suami 😆

Suami lalu berkata kalau ada celana panjang yang juga harus dicuci karena akan dipakai di hari Sabtu. Saya yang sedang menyetrika, memintanya untuk memasukkan sendiri celana tersebut ke mesin cuci yang kebetulan belum dioperasikan karena masih tahap perendaman. Saya lalu memintanya untuk mengecek apakah level airnya harus ditambah, jika iya maka detergennya pun mungkin harus ditambah.

Suami berkata kalau detergennya harus ditambah. Saya merespon dengan seksama, maksud hati untuk mengingat jika level air low butuh sekian ml maka jika level air mid akan butuh berapa ml. Lalu apa yang terjadi? Ketika saya tanya:

"Jadi tadi Abi tambah 30ml lagi ya? Cukup bi segitu?"

"Iya sekitar 30ml lah.."

Perasaan mulai tak enak.

"Koq sekitar? Emang Abi ngga ngukur pake sendok detergen kaya ummi tadi?"

"Hehe, engga"

"Loh gimana sih bi, kan kita lagi ngukur kebutuhan detergennya segimana. Makanya ummi tambahinnya per 30ml. Kenapa ngga diukur sih bi?"

Lalu perasaan mulai tak enak karena feeling saya mengatakan suami mengambil detergen bukan dari sisa di kemasan melainkan dari yang sudah tersimpan aman di botol bekas pewangi pakaian.

"Abi, selain ngga diukur, pasti Abi ambil detergennya dari botol ya? Bukan yang sisa di kemasan?"

"Iya hehe, tadi ngukur ke tutup botolnya, adalah segitu mah 30ml, ngga penuh sebotol koq"

Huwaaaaa....
Langsung deh saya mulai berpidato sambil cemberut.

(Ini dia tokoh utama dalam cerita "Sang Detergen")
Sebenarnya ini sangat tipikal ya... Pria memang lebih berpikir praktis tak seperti wanita yang ingin detil meski itu ribet. Terutama wanita semacam saya haha...
Setelah mencoba menenangkan diri, saya berandai-andai jika saja tadi saya berbicara lebih jelas kepada suami mungkin insiden tadi tidak akan terjadi. Clear and clarify. Begitu seharusnya. Tadi saya menganggap suami akan mengerti dan mengikuti langkah yang saya lakukan karena dia tahu proses sedari awal sekali. Nyatanya tidak ya, hahaha...
Mungkin tadi harusnya saya berkata:

"Kalau airnya kurang, tambah jadi ke level berikutnya. Kalau detergennya terasa kurang, tambah lagi 30ml dulu terus cek lagi. Ambil detergennya dari yang sisa di kemasan ya.."

Yah, akhirnya tantangan hari ini bukan bab komunikasi dengan anak, tapi dengan suami. Saya mengambil pelajaran hari ini. Sangat terasa, jika memang kita sendiri lah yang bertanggungjawab akan pesan yang ingin kita sampaikan ke lawan bicara kita. Apalagi kepada seseorang yang sebenarnya kita sudah tahu persis karakternya. Kita harusnya lebih menyesuaikan diri agar pesan bisa sampai dengan tepat. Karena saat pesan itu tidak sampai dengan baik, kita sendiri pula lah yang merasakan akibatnya. Dan itu sangat tidak baik untuk kesehatan jiwa di kala PMS melanda 🤣🤣🤣

Beginilah akhir kisah dari cerpen berjudul "Sang Detergen" yang mengawali hari saya. Semoga teman-teman bisa mengambil pelajaran sehingga tak perlu merasakan apa yang saya rasakan yaa... Hahaha...

Oh ya, setelah insiden tadi, kami ada keperluan mentransfer uang dari ATM. Kami pun pergi ke minimarket terdekat dengan fasilitas ATM. Disana saya melihat sebatang coklat sedang dalam masa promo. Saya pun memberi kode pada suami yang sedang mengantri ATM. Tanpa perlawanan, suami mengangguk. Nah, kali ini pesan saya sangat jelas sampai padanya dengan baik. Raut wajah saya sepertinya jelas terbaca seperti ini:

"Pokoknya aku mau ini! Kalau ngga boleh, sisa harimu tak akan membaik"  😂

Nah begitulah, selalu ada hikmah di setiap peristiwa. Ada kemudahan setelah kesulitan, ada pelangi setelah hujan, dan ada coklat setelah detergen. Wehehehe...

Love,
dienemon



Selasa, 07 November 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Bunsay (6)

Batujajar
Selasa, 7 November 2017

Hari ini masuk hari ke-6 tantangan komunikasi produktif di kelas bunda sayang. Setiap hari jadi ada saling koreksi dengan suami terkait cara komunikasi kami dengan Kaysan.

"Eits, Abi... Itu ngga produktif."

"Eh, Ummi... Dimarahin lagi anaknya..."

Semacam itulah percakapan yang terjadi.
Alhamdulillah, minimal kami sekarang jadi bisa saling mengingatkan meski kesalahan masih kerap terjadi.

Pagi tadi saat saya menjemur pakaian dan suami sedang membereskan peralatan motor di teras, Kaysan bermain sepeda. Dia membawa dua boneka tangan miliknya. Katanya, bonekanya itu mau diajak bermain sepeda. Melihat posisi boneka yang rawan jatuh, saya spontan ingin mengingatkannya. Seperti biasa, kali ini saya menahan diri dulu sejenak untuk merangkai kata yang jauh lebih baik dari yang pertama terlintas di kepala, yaitu

"Kaysan, itu awas jatoh ih bonekanya!"

Setelah beberapa detik, akhirnya saya bilang "Kaysan, naik sepedanya hati-hati ya... Itu biar bonekanya aman"



Untuk beberapa kondisi, MUNGKIN kalimat pertama tetap harus dikatakan. Misal, ketika sudah ada bahaya di depan mata. Sementara jika kondisinya masih bisa terkendali seperti tadi, kita masih bisa mencari alternatif kalimat yang lebih cocok, yaitu mengatakan yang kita inginkan bukan yang kita tidak inginkan. Ini pendapat pribadi saya ya, entah benar atau tidak secara teorinya. Hehe...

Siang harinya, hujan turun cukup deras. Saat saya dan suami sedang di dapur, Kaysan pergi ke teras. Tak lama terdengar ia memanggil kami.

"Abi, Ummi, liat nih. Aku ngepel. Horeee! Aku berbuat baik. Berarti aku dapet pahala yang banyak. Yeayyy....!"



Ternyata Kaysan memang sedang mengepel lantai teras yang basah oleh air hujan. Seketika saya kembali ke momen yang terjadi beberapa hari lalu. Hari pertama tantangan komunikasi produktif dilakukan, saya mencoba mempraktekkan "ganti perintah dengan pilihan". Saat itu kami hendak melaksanakan sholat di ruang tamu. Karena memerlukan tempat yang cukup untuk kami berdua, kami harus menggeser meja yang ada di depan sofa. Saya pun mencoba kalimat ini:

"Siapa nih ya yang dapet pahala dengan berbuat baik menggeser meja? Ummi atau Kaysan ya? Ummi aja ya Kei?"

Kaysan seperti merasa termotivasi "Ehhhh, aku aja Ummi. Aku mau dapet pahala!"

Lalu dia serta merta saat itu juga menggeser meja dan kami pun akhirnya bisa sholat berdua.

Tidak hanya itu, sore harinya Kaysan tiba-tiba merapikan rumah ketika suami saya baru saja pulang bekerja. Mainan dibereskan, sofa dibereskan, makanan dibereskan. Semua disimpan pada tempatnya.

"Ummi, aku hebat ya beberes?"

"Eh iya ih, koq tiba-tiba Kaysan beberes gitu?"

"Ngga apa-apa, aku kan ingin dapet pahala berbuat baik"

Wah, ini sih namanya dapat bonus. Saya tidak menyangka dari sekedar mencoba praktek tips komunikasi dengan anak, ternyata malah ada perilaku positif yang tercipta dari sana. Luar biasa sekali dampak dari usaha perbaikan pola komunikasi ini. Oh ya, cerita ini tidak saya tuliskan di hari pertama tantangan karena kisahnya terjadi  setelah saya selesai mengunggah tulisan saya ke blog.

Dan hari ini, ternyata Kaysan masih mengingat soal kesempatan berbuat baik yang akan berbuah pahala itu dengan mengepel teras setelah hujan. Bahkan tadi saat suami saya bertanya kepadanya mengapa ia ingin mendapat pahala yang banyak, ia menjawab dengan pernyataan: "Supaya nanti kuburannya terang"

Hmm.. Saya memang pernah membahas tentang hal ini kepadanya, kejadiannya sudah cukup lama. Seingat saya ketika ada seseorang yang kami kenal meninggal dunia. Dan Kaysan ternyata sudah bisa menghubungkan satu kisah dengan kisah lainnya.

Apa yang terjadi tadi, semakin mengingatkan saya sebagai orangtua bahwa kita harus ekstra hati-hati dalam berkata-kata. Kemampuan mereka dalam mengingat itu luar biasa dan perbaikan pola komunikasi ternyata juga memiliki efek yang tak kalah luar biasanya.
Seperti apa yang tertulis dalam materi komunikasi produktif:

Anak-anak mungkin tak mengerti dengan apa yang kita ucapkan, tapi mereka tak pernah salah dalam meniru.

Love,
dienemon

Senin, 06 November 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Bunsay (5)

Batujajar 
Senin, 6 November 2017

Wah, ternyata sudah lima hari tantangan ini dipraktekkan. Insiden tadi malam ketika draf tulisan belum dipublikasikan tepat pada waktunya masih mempengaruhi mood hingga jelang siang hari. Kids zaman now mungkin akan mengatakan: gagal move on. 
Tapi hidup jalan terus, tantangan juga harus dilakukan. Hehehe...
Alhamdulillah mood membaik pada akhirnya.

Tadi sore disini hujan turun deras sekali. Saya yang memiliki sedikit trauma dengan hujan jadi merasa agak khawatir kemudian mencoba menenangkan diri dengan berdoa. Tapi rasanya harus mencari kesibukan lain supaya fokus teralihkan. Akhirnya saya mengambil alat dan bahan untuk membuat prakarya, mengeksekusi ide yang tadi siang sudah muncul di kepala. 

Saya menyiapkan segala sesuatu yang saya perlukan, Kaysan pun begitu. Dia memilih untuk melukis. Kaysan mengambil sendiri kertas dan pensil warna yang bisa disapu kuas menjadi cat air. Tapi ternyata dia tidak menggunakan kuas sebagai media melukisnya melainkan memakai mainan yang memiliki rambut menyerupai kuas. 


Saya mencoba menahan diri untuk tak langsung menyuruhnya mengganti mainan tersebut dengan kuas. Inilah percakapan yang terjadi:

Saya: "Kei, melukisnya pake itu ya? Emangnya bisa ya Kei?"
Kaysan: "Bisa ummi, ini liat kan rambutnya kaya kuas"
Saya: "Iya sih mirip kuas ya, tapi kenapa ngga pake kuas aja?"
Kaysan: "Ngga apa-apa, bisa koq..."
Saya: "Ya sudah. Airnya sedikit aja ya, diperes dulu"
Kaysan :"Iya. Aku kasih air dulu ya.."

Lalu Kaysan mulai melukis.

Kaysan: "Yah ummi, ini jadi lembab."
Saya: "Maksudnya jadi becek ya, kebanyakan airnya?" Tadi sudah diperes atau belum?"
Kaysan: "Udah tadi aku peres dulu."
Saya: "Oh, gimana kalau coba pake kuas Kei? Mungkin kalau pake kuas ngga akan becek banget jadinya."
Kaysan: "Iya deh."

Dan mulailah ia mengganti mainan tadi dengan kuas.

Saya bersyukur karena tadi saya sempat menahan diri membiarkan imajinasinya berkembang terlebih dahulu. Toh pada akhirnya dia menyadari sendiri kalau memang rambut si mainan tidak berfungsi sebaik kuas dan menggantinya dengan kuas. Jika saya menolak sejak awal, mungkin Kaysan malah akan menangis. Lalu saya pun tak bisa tenang membuat prakarya. Dengan pilihan kalimat tadi, alhamdulillah saya pun berhasil menyelesaikan prakarya yang ingin saya buat, meski tak sesuai rencana awal. Ini dia penampakannya:



Alhamdulillah, satu lagi latihan yang bisa saya praktekkan hari ini.
Meski di kesempatan lain tetap ada kesalahan disana dan disini. Tapi saya yakin,

Practice makes perfect

Love,
dienemon



Minggu, 05 November 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Bunsay (4)

Cimahi
Minggu, 5 November 2017

Hari Minggu ini kami masih ada di Cimahi. Suami kebetulan harus menghadiri dua acara dari pagi hingga siang hari sehingga seperti biasa saya dan Kaysan lebih memilih untuk tetap di Cimahi. Pagi hingga siang kami hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Lazy Sunday. Hehe...
Kaysan baru saya ajak untuk mandi di siang hari yang ternyata hampir bertepatan dengan dengan berkumandangnya adzan sholat dzuhur. Biasanya saya akan menyuruhnya untuk sholat saja terlebih dahulu mengingat disini hampir tak ada jeda antara waktu adzan dan waktu dimulainya sholat berjamaah. Kali ini, saya mencoba bertanya dulu padanya.

"Kaysan, ternyata ini udah adzan. Gimana? Mau sholat dulu?"

Kaysan menjawab "Aku mau mandi dulu aja Ummi, soalnya badan aku lengket. Jadi aku mandi dulu aja biar nanti sholatnya seger." 

Saya yang memang merasa ini kesalahan saya telah mengajak mandi di waktu yang hampir bersamaan dengan waktu sholat, akhirnya setuju. Alhamdulillah acara mandi berjalan lancar tanpa hambatan. Ya, tak ada drama sehingga bisa selesai dalam waktu yang cukup cepat. Setelah Kaysan berbaju rapi, saya pun mengajaknya ke masjid untuk sholat berdua saja karena pasti sholat berjamaah telah usai. Namun alhamdulillah saat tiba di masjid, ternyata ada dua orang tetangga, bapak-bapak, yang belum melaksanakan sholat dzuhur. Jadi kami pun akhirnya tetap bisa sholat berjamaah.

Ini mungkin hikmah dari kemauan mengubah cara berkomunikasi. Karena biasanya saya sangat mendominasi, meminta Kaysan untuk selalu mengikuti apa saja yang saya mau. Tak jarang berakhir dengan Kaysan menangis karena mungkin ia tak suka dipaksa. Ah, maafin Ummi ya Kei...
Jika Kaysan sedang menangis seperti itu dan saya juga tidak dapat mengendalikan emosi, biasanya masalah ini menjadi panjang. Kami terjebak dalam adu argumen. Hingga akhirnya bisa jadi begini: mandi tak mau, sholat pun urung dilakukan, dan kami juga jadi sama-sama sedih.

Sekian untuk hari ini ya...

Love,
dienemon





Sabtu, 04 November 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Bunsay (3)

Cimahi
Sabtu, 4 November 2017

Hari ini adalah hari bersejarah dalam kehidupan saya dan Kaysan. Untuk pertama kalinya setelah sekitar satu tahun dua bulan tinggal di Batujajar, kami bisa pergi dari rumah menuju dunia luar berdua saja. Maafkan saya yang lebay namun begitulah adanya. Haha...
Penyebabnya adalah saya baru saja memulai kegiatan rutin sepekan sekali di Batujajar ini yang waktunya disepakati untuk diadakan di pagi hari tadi. Kebetulan suami sedang jadwal masuk kerja pagi juga sehingga tidak mungkin mengantar kami ke acara tersebut. 

Persiapan saya lakukan dari hari sebelumnya dengan bertanya di Whatsapp Group warga komplek mengenai ketersediaan angkutan online di area komplek perumahan kami. Alhamdulillah kabar baik yang didapat yaitu disini sudah banyak angkutan online yang beroperasi. 

Pagi pun tiba, saya cukup sibuk menyiapkan segala sesuatu. Menyiapkan keperluan suami, menyiapkan sarapan, menyiapkan bekal untuk Kaysan, menyiapkan barang bawaan, menyiapkan baju dan juga mengurus cucian. Saya merancang target waktu agar bisa sampai di tempat acara tepat waktu. Sesaat setelah suami pergi bekerja pada pukul enam pagi, Kaysan terbangun. Setelah ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mencuci muka, saya meminta Kaysan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum nanti mandi dan bersiap pergi. Oh ya, Kaysan sudah tahu kalau pagi itu kami akan pergi. 

Disinilah drama terjadi. Waktu berjalan terus. Kaysan tidak mau sarapan dengan alasan belum merasa lapar. Saya coba mengingatkan kalau kami harus pergi sehingga tak akan ada waktu lagi untuk menunda sarapan. Kaysan tetap pada pendiriannya. Saya coba menahan diri sambil mengingat rumus jika nalar panjang, maka emosi kecil. Walau rasanya ingin sekali berkata "Masa ngga lapar? Biasanya juga bangun tidur Kaysan minta makan kan..."

Sambil mencoba mengingat materi komunikasi produktif, saya mencari cara lain agar Kaysan mau sarapan. Lalu ingatlah pada poin: gantilah kalimat yang menolak/mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati. Akhirnya saya mencoba redaksi kalimat di bawah ini:

"Kaysan emangnya belum lapar ya? Belum mau makan sekarang?"

Ia menjawab "Iya"

Hmmm... berpikir keras lagi untuk merespon jawabannya.

"Kaysan belum lapar ya? tapi ini gimana dong nasi gorengnya udah Ummi masakin. Terus kalau mau dibekel juga tas Ummi udah ngga muat. Tas Kaysan juga udah ada isinya, kalau bawa nasi jadi berat. Terus nanti kita kan mau ke rumah nenek pulang dari acara. Ummi repot nanti harus bawa tas ummi, pegang Kaysan, sama bawa tas untuk helm dan bekal Kaysan. Kan ke rumah neneknya nanti insya Allah pake mobil, jadi helm nya ngga dipake"

Lalu ditambah bumbu mengubah perintah menjadi pilihan.

"Gimana Kaysan, makan di rumah aja ya sarapannya? Mau ummi temenin makannya sekarang atau Ummi jemur pakaian dulu aja deh ya? Soalnya kita hampir terlambat, harus segera"

Alhamdulillah akhirnya Kaysan mau memakan sarapannya dengan syarat saya menemaninya. Dan saya harus menepati janji saya padanya walau raga ini ingin sekali jemur pakaian saja agar segalanya cepat selesai haha... Redaksi kalimat yang diubah dan embel-embel "mau ke rumah nenek" sepertinya jadi faktor kuat yang mempengaruhi Kaysan sehingga mau mengubah keputusannya. Walau sebenarnya, saya masih memiliki keraguan akan kalimat-kalimat yang saya pilih. Mudah-mudahan saja masih pada jalurnya yaa...

Setelah drama sarapan itu, alhamdulillah sisanya berjalan lancar tanpa hambatan berarti hingga jelang siang kami berdua sudah berhasil tiba di rumah nenek Kaysan di Cimahi.

Sekian cerita hari ini dari kami.
Sejarah baru, gaya komunikasi baru.

Love,
dienemon


Jumat, 03 November 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Bunsay (2)

Batujajar
Jumat, 3 November 2017

Apa ya yang bisa diceritakan di hari kedua tantangan ini?

Intinya sih, hari ini ternyata lebih menantang. Kenapa lebih menantang?
Karena lebih banyak membubuhkan tanda silang dibandingkan dengan tanda ceklis pada tabel harian yang kemarin saya buat.
Tapi saya memotivasi diri sendiri agar tak menyebutnya sebagai sebuah kemunduran. Karena saya pikir menyadari kesalahan yang dilakukan adalah awal yang baik dalam sebuah proses perbaikan. Tinggal bagaimana mengevaluasi dan senantiasa mengadakan perbaikan setelahnya. 

Apa saja kesalahan yang saya lakukan hari ini? 

1. Fokus pada masalah, bukan solusi
   Beberapa kali di hari ini saya melakukan kesalahan pada poin ini. Misal tadi saat Kaysan tidak sengaja menyenggol makanan di piring abinya. Spontan saya mengucapkan kalimat yang malah membahas kesalahannya, padahal itu juga sebuah ketidaksengajaan. Tapi sesaat itu pula saya tersadar lalu beralih ke kalimat solusi. Mengajaknya untuk membersihkan noda yang timbul karena kejadian tadi. Lagi-lagi saya sadar bahwa mengubah sebuah kebiasaan memang butuh usaha yang keras.

2. Menggunakan intonasi dan suara yang tidak ramah
    Poin ini yang saya rasa sangat sering dilakukan. Astaghfirullah. Jika saya sambungkan dengan tips komunikasi kepada orang (dewasa) lain, sepertinya saya ini nalarnya pendek sehingga emosi lebih tinggi. Melatih kelembutan hati sehingga bisa berpikir dengan lebih jernih rasanya menjadi prioritas bagi saya saat ini. 

Lho, ternyata "hanya" dua poin yang diceritakan? Iya, memang "hanya" dua, tapi hari ini saya melakukannya berulang kali. Itu mengapa saya menyebut hari ini lebih banyak memberi tanda silang dibanding tanda ceklis pada tabel harian saya. Dua poin ini yang saya sadari dan saya yakin sebenarnya ada poin lain yang belum saya sadari.

Lalu apa yang berhasil dilakukan hari ini? 

1. Mengubah nasehat menjadi refleksi pengalaman
   Bulan Oktober kemarin, Kaysan berusia tepat 4 tahun. Saya memotivasinya untuk lebih mandiri dalam keseharian. Salah satunya adalah belajar makan sendiri. Biasanya saya menasehatinya saat ia makan. Begini dan begitu. Jangan begini dan jangan begitu. Hari ini, saya mencoba mengubahnya menjadi refleksi pengalaman. Saya bercerita bahwa saat saya masih kuliah dulu, saya pernah belajar tata cara makan yang benar. Memang saya sempat mengikuti kelas table manner saat kuliah sebagai bagian dari mata kuliah Cross Culture Understanding. Dia sangat tertarik dengan ceritanya. Akhirnya saya manfaatkan kesempatan itu untuk menasehatinya bagaimana cara makan yang baik. Dengan cara ini, dia lebih fokus mendengarkan nasehat dari saya. Dengan cara lama, Kaysan biasanya akan terus menimpali dan mencari alasan ini dan itu saat dinasehati. 

2. Mengubah perintah jadi pilihan
    Cerita dengan poin ini ternyata topiknya lagi-lagi tentang membereskan mainan, hahaha... Ya, tadi ruang tamu sempat berantakan karena Kaysan bermain disana. Jelang sore, Kaysan meminta saya untuk menyiapkan keperluannya mandi sore. Saya mencoba memberinya pilihan dengan bertanya

 "Kaysan, gimana kalau kita beres-beres dulu sebelum Kaysan mandi? Kalau beres-beresnya nanti setelah mandi, Kaysan jadi keringetan lagi. Sekarang aja gimana? Sebentar lagi juga Abi pulang kerja kan..."

Alhamdulillah berhasil. Dia setuju dan mulai membereskan mainannya sementara saya membereskan lainnya. Setelah rumah rapi, Kaysan pun mandi. Dan abinya pulang tepat saat Kaysan sudah selesai berpakaian, rapi dan wangi. Ia pun segera berlari keluar sambil berkata "Abi pulang mi! Aku keluar dulu ya untuk menyambut Abi" Hahaha...

Lalu dia pun keluar menyambut Abinya dengan ceria sambil berkata "Abi, aku udah mandi, barusan banget. Aku juga udah beres-beres sama ummi, rumahnya udah rapi". 
Keceriaannya bertambah saat tahu Abinya membawa oleh-oleh donat untuknya. Hehe...

Alhamdulillah...

Setiap hari adalah harapan. Harapan untuk bisa berbuat lebih baik di hari tantangan selanjutnya.  

Love,
dienemon


Kamis, 02 November 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Bunsay (1)

Batujajar
Kamis, 2 November 2017

Hari ini adalah hari pertama dimulainya tantangan yang diberikan di kuliah bunsay IIP. Materi yang dibahas adalah komunikasi produktif. Dalam materi ini kami diingatkan bagaimana seharusnya berkomunikasi yang baik kepada diri sendiri, pasangan (atau orang dewasa lain), dan komunikasi kepada anak. 

Ada dua tantangan yang diberikan pada game level 1 ini. Tantangan pertama adalah membuat forum keluarga sebagai sarana komunikasi keluarga. Sementara tantangan kedua adalah untuk melatih kemampuan berkomunikasi dengan salah satu anggota keluarga selama minimal sepuluh hari.

Keluarga kecil saya (saya, suami, satu anak usia empat tahun) belum pernah dengan sengaja membuat sebuah forum khusus sebagai sarana kami berkomunikasi. Suami saya bekerja dengan sistem shift. Maka waktu luang bagi kami untuk bisa berkomunikasi (dalam hal ini membicarakan tentang apa saja yang terjadi di hari tersebut) sangat tergantung dengan jadwal kerja suami.

Jika suami bekerja pagi hingga sore hari, maka biasanya waktu untuk kami bertiga saling bercerita adalah sore saat suami pulang kerja. Sebenarnya ini lebih kepada menceritakan sekaligus mendengarkan cerita anak kami. Selayaknya anak kecil lainnya, dia sangat antusias menceritakan apa saja yang dia lakukan saat ayahnya sedang bekerja. Jika suami bekerja siang hingga malam hari, maka peristiwa di atas akan terjadi di pagi hari. 

Khusus untuk pembicaraan yang hanya menyangkut saya dan suami saja, biasanya kami lakukan sesaat sebelum tidur atau di pagi hari ketika anak belum bangun. Kecuali jika ada hal-hal penting maka akan saya sampaikan segera meski itu saat suami baru pulang bekerja.

Kesimpulannya, forum keluarga kami masih bersifat fleksibel menyesuaikan situasi dan kondisi. Jika memang diminta untuk membuat sebuah forum khusus, maka kami akan mencobanya. Sampai tulisan ini dibuat, kami belum membicarakan mengenai forum khusus ini. 

Untuk tantangan kedua, saya memilih melakukannya dengan anak saya karena saya merasa masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki dalam pola komunikasi saya dengan anak.
Untuk memudahkan saya yang tipe belajarnya dominan visual, kemarin saya berniat membuat rangkuman materi dengan membuat doodle lalu membuat tabel untuk memudahkan praktek. Lalu rencana tetap menjadi rencana, hehe.. Pada kenyataannya, doodle dan tabelnya belum saya buat hingga kemarin malam.


Maka tadi pagi setelah suami berangkat bekerja pukul 06.00, saya pun langsung mengeksekusi niatan saya. Mengantisipasi anak yang bisa terbangun dari tidurnya kapan saja, saya memutuskan untuk sekedar menuliskan rangkuman materi, tanpa membuat doodle yang membutuhkan waktu cukup lama. Tabel yang sedianya akan saya buat terpisah pun, akhirnya saya buat di pinggir rangkuman materi saja sehingga tak perlu menulis ulang. 


(Tabel yang saya buat lalu ditempel di dinding yang sering terlewati)



Mengapa harus membuat tabel? 

Tabel saya buat sebagai kerangka untuk memudahkan saya membuat laporan. Karena ada dua pilihan strategi yang saya punya dalam mempraktekkan materi komunikasi produktif dengan anak dan keduanya bisa dimudahkan pelaporannya dengan menggunakan tabel.
Pertama, memilih satu poin saja dari keseluruhan tips komunikasi produktif untuk dilatihkan pada hari tersebut. Poin selanjutnya di hari kedua, poin selanjutnya lagi di hari ketiga, dan seterusnya.
Kedua, tidak ada satu poin khusus yang akan dilatihkan. Komunikasi berjalan seperti biasa dan saya akan mencoba mempraktekkan poin apa saja yang kebetulan muncul saat berkomunikasi. Tabel ini nanti akan memuat datanya, poin mana yang sudah/belum saya praktekkan pada hari tersebut.


Hingga pagi hari ini, saya belum menjatuhkan pilihan untuk memakai strategi yang mana. Hingga setelah anak saya bangun dan kami mulai berkomunikasi pagi tadi, saya baru menjatuhkan pilihan pada strategi kedua. 



Ada beberapa poin yang berhasil saya latih hari ini dan sebagian lainnya tidak. Memang ternyata dibutuhkan usaha yang kuat dalam merubah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, mengubah yang tidak baik menjadi baik. 



Cerita pertama hari ini adalah praktek dari poin "Keep Information Short and Simple (KISS)". 

Tadi pagi saat saya menjemur pakaian, Kaysan (nama anak saya) meminta izin untuk bermain sepeda. Karena gerbang masih dalam keadaan terkunci, saya pun memintanya untuk mengambil kunci yang menggantung di pintu. Saat ia berlari ke dalam rumah untuk mengambil kunci, saya spontan teringat untuk menyuruhnya mengambil topi juga mengingat di luar sudah mulai panas, maksudnya agar ia tak perlu bolak balik. Saya pun memintanya untuk mengambil topi.


Dia menghentikan langkahnya lalu menoleh dan bertanya, "Apa mi?" Ups... Seketika saya sadar akan poin KISS. Akhirnya saya mengoreksi ucapan saya dan memintanya untuk hanya mengambil kunci. Setelah itu selesai dilakukan, barulah saya memintanya untuk kembali ke rumah mengambil topi. Kaysan sebenarnya memang sudah bisa menangkap dua pesan seperti di atas, tapi tindakan saya menginterupsi tadi nyatanya malah memperlambat waktu selesainya satu aktifitas. Karena Kaysan jadi menghentikan langkahnya dan menoleh untuk mendengar permintaan saya lebih jelas lagi (karena saya menyebutkannya dari kejauhan dan dia pun tidak sedang fokus). Tapi saat saya menyebutkannya secara jelas setelah dia mengambilkan kunci serta dia pun dalam keadaan fokus, permintaan untuk mengambil topi pun jadi selesai dengan cepat.



Cerita berikutnya mengenai poin mengubah perintah jadi pilihan. Kaysan tiba-tiba berkeinginan untuk tidur siang di ruang tamu dengan dialasi karpet. Saya setuju. Tapi tadi di ruang tamu banyak sekali mainan mobil-mobilan Kaysan yang ia susun berbaris memanjang.

Normalnya, saya akan berkata "Ya udah, beresin dulu mainannya ya!"
Tapi teringat poin di atas, saya pun mencoba mengubah redaksi kata yang saya buat menjadi

"Kita kan mau pasang karpet untuk tidur, tapi ini banyak mainan Kaysan. Gimana? Masih mau lanjut main atau mainannya mau diberesin dulu biar kita bisa pasang karpet?" 
Kaysan menjawab "Oh iya, tapi gimana donk mainan aku nya, kan aku udah bikin macet-macetan nya, Ummi." 

Ini biasanya jadi pemicu saya beradu pendapat dengannya (hellow bu, adu pendapat kok sama anak  kecil, hahaha.. ) yaitu saat Kaysan tidak mau mainannya dibereskan meski untuk sementara saja. 


Tapi dengan redaksi kalimat yang tadi, maka terjadilah komunikasi yang cukup lancar. Akhirnya saya memberinya ide untuk memindahkan kemacetan itu ke pinggir tembok saja, sehingga ia tak perlu repot memindahkannya. Kaysan melihat situasi dan belum setuju untuk dipindah ke pinggir tembok dengan alasan kemacetannya akan terputus sebab ada kipas angin berdiri disana. Hahaha... 

Saya pun memberikan ide lain yaitu membagi dua kemacetan tersebut supaya tidak terlalu panjang. Ia masih belum setuju.


Saya beri ide lain lagi, memindahkannya ke kamar belakang, yang memang dijadikan ruangan untuk menyimpan mainan Kaysan. Opsi ini tadinya tidak saya berikan karena  biasanya dia akan beralasan capek karena kejauhan. 

Lalu ia berkata "Sebentar ya Ummi, aku liat dulu. Ohh, kayanya cukup mi.. Yaudah aku pindahin ke kamar aku aja ya.." 
Dan mulailah ia memindahkan semua mobil-mobilan itu ke kamarnya tanpa dibantu sedikit pun dan tanpa mengeluh. Wow... Saya takjub sendiri jadinya 😂


This is the power of good communication.


(Kemacetan di ruang tamu)

(Kemacetan yang sudah pindah ke kamar)


Satu cerita terakhir di hari ini terkait poin memuji dengan produktif dan berbicara dengan ramah. Saya kehilangan bando beberapa hari ke belakang. Tadi Kaysan tidak sengaja menemukannya di balik sofa bed. Dia dengan semangat memberi tahu saya "Ummi, ini bando Ummi ketemu, ternyata ada di belakang sofa bed. Ini udah aku ambilin".

Teringat poin di atas, saya mencoba merespon dengan memasang wajah yang sumringah dan berkata "Wah.... Alhamdulillah ketemu... Makasih ya Kaysan, Kaysan sudah berbuat baik, udah nemuin terus ambilin bando Ummi. Makasih yaaa... Ummi seneng jadi bisa pake bando lagi nih..."
Lalu anak kecil itu tersipu-sipu malu, terlihat ada rasa bangga disana, hehehe... 


Alhamdulillah, itulah beberapa poin yang saya praktekkan hari ini. Lalu apa berarti saya sudah tidak melakukan kesalahan?

Oh banyak 😂
Yang masih sangat sering adalah berkata "Tuh kan! Kan udah dibilangin tadi. Kaysan sih..."
Hehehe...


Semoga dengan latihan yang terus menerus melalui tantangan game di kelas bunda sayang ini, saya dapat memperbaiki pola komunikasi saya, baik kepada anak, kepada diri sendiri maupun orang lain. 



Aamiin.



Love, 

dienemon