Batujajar
Kamis, 2 November 2017
Hari ini adalah hari pertama dimulainya tantangan yang diberikan di kuliah bunsay IIP. Materi yang dibahas adalah komunikasi produktif. Dalam materi ini kami diingatkan bagaimana seharusnya berkomunikasi yang baik kepada diri sendiri, pasangan (atau orang dewasa lain), dan komunikasi kepada anak.
Kamis, 2 November 2017
Hari ini adalah hari pertama dimulainya tantangan yang diberikan di kuliah bunsay IIP. Materi yang dibahas adalah komunikasi produktif. Dalam materi ini kami diingatkan bagaimana seharusnya berkomunikasi yang baik kepada diri sendiri, pasangan (atau orang dewasa lain), dan komunikasi kepada anak.
Ada dua tantangan yang diberikan pada game level 1 ini. Tantangan pertama adalah membuat forum keluarga sebagai sarana komunikasi keluarga. Sementara tantangan kedua adalah untuk melatih kemampuan berkomunikasi dengan salah satu anggota keluarga selama minimal sepuluh hari.
Keluarga kecil saya (saya, suami, satu anak usia empat tahun) belum pernah dengan sengaja membuat sebuah forum khusus sebagai sarana kami berkomunikasi. Suami saya bekerja dengan sistem shift. Maka waktu luang bagi kami untuk bisa berkomunikasi (dalam hal ini membicarakan tentang apa saja yang terjadi di hari tersebut) sangat tergantung dengan jadwal kerja suami.
Jika suami bekerja pagi hingga sore hari, maka biasanya waktu untuk kami bertiga saling bercerita adalah sore saat suami pulang kerja. Sebenarnya ini lebih kepada menceritakan sekaligus mendengarkan cerita anak kami. Selayaknya anak kecil lainnya, dia sangat antusias menceritakan apa saja yang dia lakukan saat ayahnya sedang bekerja. Jika suami bekerja siang hingga malam hari, maka peristiwa di atas akan terjadi di pagi hari.
Khusus untuk pembicaraan yang hanya menyangkut saya dan suami saja, biasanya kami lakukan sesaat sebelum tidur atau di pagi hari ketika anak belum bangun. Kecuali jika ada hal-hal penting maka akan saya sampaikan segera meski itu saat suami baru pulang bekerja.
Kesimpulannya, forum keluarga kami masih bersifat fleksibel menyesuaikan situasi dan kondisi. Jika memang diminta untuk membuat sebuah forum khusus, maka kami akan mencobanya. Sampai tulisan ini dibuat, kami belum membicarakan mengenai forum khusus ini.
Untuk tantangan kedua, saya memilih melakukannya dengan anak saya karena saya merasa masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki dalam pola komunikasi saya dengan anak.
Untuk tantangan kedua, saya memilih melakukannya dengan anak saya karena saya merasa masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki dalam pola komunikasi saya dengan anak.
Untuk memudahkan saya yang tipe belajarnya dominan visual, kemarin saya berniat membuat rangkuman materi dengan membuat doodle lalu membuat tabel untuk memudahkan praktek. Lalu rencana tetap menjadi rencana, hehe.. Pada kenyataannya, doodle dan tabelnya belum saya buat hingga kemarin malam.
Maka tadi pagi setelah suami berangkat bekerja pukul 06.00, saya pun langsung mengeksekusi niatan saya. Mengantisipasi anak yang bisa terbangun dari tidurnya kapan saja, saya memutuskan untuk sekedar menuliskan rangkuman materi, tanpa membuat doodle yang membutuhkan waktu cukup lama. Tabel yang sedianya akan saya buat terpisah pun, akhirnya saya buat di pinggir rangkuman materi saja sehingga tak perlu menulis ulang.
![]() |
| (Tabel yang saya buat lalu ditempel di dinding yang sering terlewati) |
Mengapa harus membuat tabel?
Tabel saya buat sebagai kerangka untuk memudahkan saya membuat laporan. Karena ada dua pilihan strategi yang saya punya dalam mempraktekkan materi komunikasi produktif dengan anak dan keduanya bisa dimudahkan pelaporannya dengan menggunakan tabel.
Pertama, memilih satu poin saja dari keseluruhan tips komunikasi produktif untuk dilatihkan pada hari tersebut. Poin selanjutnya di hari kedua, poin selanjutnya lagi di hari ketiga, dan seterusnya.
Kedua, tidak ada satu poin khusus yang akan dilatihkan. Komunikasi berjalan seperti biasa dan saya akan mencoba mempraktekkan poin apa saja yang kebetulan muncul saat berkomunikasi. Tabel ini nanti akan memuat datanya, poin mana yang sudah/belum saya praktekkan pada hari tersebut.
Hingga pagi hari ini, saya belum menjatuhkan pilihan untuk memakai strategi yang mana. Hingga setelah anak saya bangun dan kami mulai berkomunikasi pagi tadi, saya baru menjatuhkan pilihan pada strategi kedua.
Ada beberapa poin yang berhasil saya latih hari ini dan sebagian lainnya tidak. Memang ternyata dibutuhkan usaha yang kuat dalam merubah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, mengubah yang tidak baik menjadi baik.
Cerita pertama hari ini adalah praktek dari poin "Keep Information Short and Simple (KISS)".
Tadi pagi saat saya menjemur pakaian, Kaysan (nama anak saya) meminta izin untuk bermain sepeda. Karena gerbang masih dalam keadaan terkunci, saya pun memintanya untuk mengambil kunci yang menggantung di pintu. Saat ia berlari ke dalam rumah untuk mengambil kunci, saya spontan teringat untuk menyuruhnya mengambil topi juga mengingat di luar sudah mulai panas, maksudnya agar ia tak perlu bolak balik. Saya pun memintanya untuk mengambil topi.
Dia menghentikan langkahnya lalu menoleh dan bertanya, "Apa mi?" Ups... Seketika saya sadar akan poin KISS. Akhirnya saya mengoreksi ucapan saya dan memintanya untuk hanya mengambil kunci. Setelah itu selesai dilakukan, barulah saya memintanya untuk kembali ke rumah mengambil topi. Kaysan sebenarnya memang sudah bisa menangkap dua pesan seperti di atas, tapi tindakan saya menginterupsi tadi nyatanya malah memperlambat waktu selesainya satu aktifitas. Karena Kaysan jadi menghentikan langkahnya dan menoleh untuk mendengar permintaan saya lebih jelas lagi (karena saya menyebutkannya dari kejauhan dan dia pun tidak sedang fokus). Tapi saat saya menyebutkannya secara jelas setelah dia mengambilkan kunci serta dia pun dalam keadaan fokus, permintaan untuk mengambil topi pun jadi selesai dengan cepat.
Cerita berikutnya mengenai poin mengubah perintah jadi pilihan. Kaysan tiba-tiba berkeinginan untuk tidur siang di ruang tamu dengan dialasi karpet. Saya setuju. Tapi tadi di ruang tamu banyak sekali mainan mobil-mobilan Kaysan yang ia susun berbaris memanjang.
Normalnya, saya akan berkata "Ya udah, beresin dulu mainannya ya!"
Tapi teringat poin di atas, saya pun mencoba mengubah redaksi kata yang saya buat menjadi
"Kita kan mau pasang karpet untuk tidur, tapi ini banyak mainan Kaysan. Gimana? Masih mau lanjut main atau mainannya mau diberesin dulu biar kita bisa pasang karpet?"
Kaysan menjawab "Oh iya, tapi gimana donk mainan aku nya, kan aku udah bikin macet-macetan nya, Ummi."
Ini biasanya jadi pemicu saya beradu pendapat dengannya (hellow bu, adu pendapat kok sama anak kecil, hahaha.. ) yaitu saat Kaysan tidak mau mainannya dibereskan meski untuk sementara saja.
Tapi dengan redaksi kalimat yang tadi, maka terjadilah komunikasi yang cukup lancar. Akhirnya saya memberinya ide untuk memindahkan kemacetan itu ke pinggir tembok saja, sehingga ia tak perlu repot memindahkannya. Kaysan melihat situasi dan belum setuju untuk dipindah ke pinggir tembok dengan alasan kemacetannya akan terputus sebab ada kipas angin berdiri disana. Hahaha...
Saya pun memberikan ide lain yaitu membagi dua kemacetan tersebut supaya tidak terlalu panjang. Ia masih belum setuju.
Saya beri ide lain lagi, memindahkannya ke kamar belakang, yang memang dijadikan ruangan untuk menyimpan mainan Kaysan. Opsi ini tadinya tidak saya berikan karena biasanya dia akan beralasan capek karena kejauhan.
Lalu ia berkata "Sebentar ya Ummi, aku liat dulu. Ohh, kayanya cukup mi.. Yaudah aku pindahin ke kamar aku aja ya.."
Dan mulailah ia memindahkan semua mobil-mobilan itu ke kamarnya tanpa dibantu sedikit pun dan tanpa mengeluh. Wow... Saya takjub sendiri jadinya 😂
This is the power of good communication.
(Kemacetan di ruang tamu)
(Kemacetan yang sudah pindah ke kamar)
Satu cerita terakhir di hari ini terkait poin memuji dengan produktif dan berbicara dengan ramah. Saya kehilangan bando beberapa hari ke belakang. Tadi Kaysan tidak sengaja menemukannya di balik sofa bed. Dia dengan semangat memberi tahu saya "Ummi, ini bando Ummi ketemu, ternyata ada di belakang sofa bed. Ini udah aku ambilin".
Teringat poin di atas, saya mencoba merespon dengan memasang wajah yang sumringah dan berkata "Wah.... Alhamdulillah ketemu... Makasih ya Kaysan, Kaysan sudah berbuat baik, udah nemuin terus ambilin bando Ummi. Makasih yaaa... Ummi seneng jadi bisa pake bando lagi nih..."
Lalu anak kecil itu tersipu-sipu malu, terlihat ada rasa bangga disana, hehehe...
Alhamdulillah, itulah beberapa poin yang saya praktekkan hari ini. Lalu apa berarti saya sudah tidak melakukan kesalahan?
Oh banyak 😂
Yang masih sangat sering adalah berkata "Tuh kan! Kan udah dibilangin tadi. Kaysan sih..."
Hehehe...
Semoga dengan latihan yang terus menerus melalui tantangan game di kelas bunda sayang ini, saya dapat memperbaiki pola komunikasi saya, baik kepada anak, kepada diri sendiri maupun orang lain.
Aamiin.
Love,
dienemon



Tidak ada komentar:
Posting Komentar