Cimahi
Kamis, 9 November 2017
Selamat malam dari Cimahi yang sedang hujan!
Jelang siang hari tadi, kami pergi dari Batujajar menuju Cimahi. Karena ada beberapa keperluan di Cimahi dan memang sudah rencana menginap untuk membantu menjaga keponakan saya yang malam ini ditinggal ibunya pergi tugas ke luar kota.
Saat persiapan pergi, Kaysan menolak saat diminta untuk mandi. Saya yang masih mencuci piring di dapur mendengarkan percakapan suami dengan Kaysan. Kaysan tetap masih menolak mandi meski suami saya sudah mengingatkan jika kami harus bersegera karena akan ada beberapa agenda dulu sebelum kami ke rumah neneknya.
Saya mencoba ikut bicara dengan mengganti atau mungkin sebenarnya hanya melengkapi kalimat yang suami saya gunakan sebelumnya ("Kaysan ayo cepetan mandi, kita kan mau pergi, nanti Abi telat lho kerjanya kalau Kaysan ngga mandi sekarang", dengan intonasi yang agak meninggi karena tak kunjung dituruti)
Ini yang saya katakan pada Kaysan tadi:
"Kaysan, kalau mau jadi ke rumah nenek, kita harus bersegera. Abi kan mau pergi kerja. Jadi kita harus siap dari sekarang karena kita harus ke bengkel dan bank dulu. Kalau tidak bersegera, kita ngga bisa pergi karena keburu Abi harus berangkat kerja. Ngga cukup waktunya. Gimana? Kaysan mau mandi sekarang?"
Alhamdulillah... Manjur!
Padahal kalimatnya kurang lebih sama. Alasannya sama. Mungkin hanya beda di intonasi karena saya mencoba menahan diri walau sebenarnya sudah ikut gemes. Hahaha...
Nah disitulah mungkin pembuktian betapa intonasi memang sangat mempengaruhi hasil dari sebuah komunikasi.
Cerita berikutnya saat kami sudah sampai di rumah Cimahi. Tiba-tiba saya merasa suhu tubuh Kaysan lebih hangat dari suhu tubuh normal. Saya memintanya untuk tidur siang. Sore harinya, saya memintanya untuk makan. Kaysan menolak dengan berbagai macam alasan. Tarik nafas, keluarkan. Tarik nafas, keluarkan. Lalu teringatlah saya kalau saya pernah menjelaskan tentang bagaimana tubuh kita harus kuat melawan penyakit.
Oke, kita coba pakai cerita itu ya!
Mulailah saya berbicara. Dimulai dengan membahas suhu tubuhnya yang agak lebih hangat. Saya bilang itu artinya tubuhnya memberitahu kalau sedang ada kuman penyakit yang mau menyerang. Tubuhnya harus kuat. Ia harus memberi kekuatan pada tentara-tentara di tubuhnya agar tak kalah berperang dari kuman penyakit. Jika ia tidak mau makan, maka tentara-tentaranya akan merasa lemas dan tak kuat melawan penyakit. Saya katakan padanya bahwa ia boleh memilih. Mau menunda makan atau tidak setelah mendengar penjelasan saya.
Saya tak memaksanya lagi. Saya hanya katakan, kalau ia sudah mau memberi makan tentara-tentara dalam tubuhnya, ia boleh memanggil saya untuk menyiapkan makannya. Mungkin hanya butuh waktu tak lebih dari satu menit, Kaysan meminta saya untuk menyiapkan makannya. Alhamdulillah. Kaysan pun akhirnya menyelesaikan makannya dalam waktu yang singkat saja. Iya, jauh lebih lama waktu untuk membujuknya daripada durasi makannya. Fiuh banget 🤦
Itu cerita yang bisa saya bagi hari ini. Mudah-mudahan tentara-tentara di tubuh Kaysan menang sehingga Kaysan bisa kembali fit. Mudah-mudahan saya dan suami juga selalu menang melawan hawa nafsu sehingga bisa lebih terampil dalam berkomunikasi dengan Kaysan. Hehehe...
Aamiin...
Love,
dienemon


Tidak ada komentar:
Posting Komentar