Cimahi
Sabtu, 4 November 2017
Hari ini adalah hari bersejarah dalam kehidupan saya dan Kaysan. Untuk pertama kalinya setelah sekitar satu tahun dua bulan tinggal di Batujajar, kami bisa pergi dari rumah menuju dunia luar berdua saja. Maafkan saya yang lebay namun begitulah adanya. Haha...
Penyebabnya adalah saya baru saja memulai kegiatan rutin sepekan sekali di Batujajar ini yang waktunya disepakati untuk diadakan di pagi hari tadi. Kebetulan suami sedang jadwal masuk kerja pagi juga sehingga tidak mungkin mengantar kami ke acara tersebut.
Persiapan saya lakukan dari hari sebelumnya dengan bertanya di Whatsapp Group warga komplek mengenai ketersediaan angkutan online di area komplek perumahan kami. Alhamdulillah kabar baik yang didapat yaitu disini sudah banyak angkutan online yang beroperasi.
Pagi pun tiba, saya cukup sibuk menyiapkan segala sesuatu. Menyiapkan keperluan suami, menyiapkan sarapan, menyiapkan bekal untuk Kaysan, menyiapkan barang bawaan, menyiapkan baju dan juga mengurus cucian. Saya merancang target waktu agar bisa sampai di tempat acara tepat waktu. Sesaat setelah suami pergi bekerja pada pukul enam pagi, Kaysan terbangun. Setelah ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mencuci muka, saya meminta Kaysan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum nanti mandi dan bersiap pergi. Oh ya, Kaysan sudah tahu kalau pagi itu kami akan pergi.
Disinilah drama terjadi. Waktu berjalan terus. Kaysan tidak mau sarapan dengan alasan belum merasa lapar. Saya coba mengingatkan kalau kami harus pergi sehingga tak akan ada waktu lagi untuk menunda sarapan. Kaysan tetap pada pendiriannya. Saya coba menahan diri sambil mengingat rumus jika nalar panjang, maka emosi kecil. Walau rasanya ingin sekali berkata "Masa ngga lapar? Biasanya juga bangun tidur Kaysan minta makan kan..."
Sambil mencoba mengingat materi komunikasi produktif, saya mencari cara lain agar Kaysan mau sarapan. Lalu ingatlah pada poin: gantilah kalimat yang menolak/mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati. Akhirnya saya mencoba redaksi kalimat di bawah ini:
"Kaysan emangnya belum lapar ya? Belum mau makan sekarang?"
Ia menjawab "Iya"
Hmmm... berpikir keras lagi untuk merespon jawabannya.
"Kaysan belum lapar ya? tapi ini gimana dong nasi gorengnya udah Ummi masakin. Terus kalau mau dibekel juga tas Ummi udah ngga muat. Tas Kaysan juga udah ada isinya, kalau bawa nasi jadi berat. Terus nanti kita kan mau ke rumah nenek pulang dari acara. Ummi repot nanti harus bawa tas ummi, pegang Kaysan, sama bawa tas untuk helm dan bekal Kaysan. Kan ke rumah neneknya nanti insya Allah pake mobil, jadi helm nya ngga dipake"
Lalu ditambah bumbu mengubah perintah menjadi pilihan.
"Gimana Kaysan, makan di rumah aja ya sarapannya? Mau ummi temenin makannya sekarang atau Ummi jemur pakaian dulu aja deh ya? Soalnya kita hampir terlambat, harus segera"
Alhamdulillah akhirnya Kaysan mau memakan sarapannya dengan syarat saya menemaninya. Dan saya harus menepati janji saya padanya walau raga ini ingin sekali jemur pakaian saja agar segalanya cepat selesai haha... Redaksi kalimat yang diubah dan embel-embel "mau ke rumah nenek" sepertinya jadi faktor kuat yang mempengaruhi Kaysan sehingga mau mengubah keputusannya. Walau sebenarnya, saya masih memiliki keraguan akan kalimat-kalimat yang saya pilih. Mudah-mudahan saja masih pada jalurnya yaa...
Setelah drama sarapan itu, alhamdulillah sisanya berjalan lancar tanpa hambatan berarti hingga jelang siang kami berdua sudah berhasil tiba di rumah nenek Kaysan di Cimahi.
Sekian cerita hari ini dari kami.
Sejarah baru, gaya komunikasi baru.
Sejarah baru, gaya komunikasi baru.
Love,
dienemon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar