Rabu, 8 November 2017
Keep calm and blame it on PMS 😆
Ouch! Beberapa hari ini emosi saya tak stabil. Perasaan teu paruguh sudah mulai datang. Hari ini, sepertinya perasaan itu sudah mulai naik level ke level berikutnya.
Kisah dimulai dengan topik detergen. Alkisah, saya mencoba membeli detergen cair saat belanja bulanan. Sebelumnya saya terbiasa memakai detergen bubuk. Sebagai pemula, saya mencoba dulu untuk mengikuti petunjuk takaran di kemasan detergen. Ukuran yang digunakan menggunakan satuan mili liter atau menggunakan tutup botol sebagai alat ukur. Seketika saya sadar kalau saya malah membeli kemasan refill sehingga saya tidak memiliki tempat untuk menyimpan detergen tersebut dan jadinya harus menggunakan sendok detergen manual untuk menakar banyaknya detergen, kebetulan ada garis ukurnya disana. Teringat botol pewangi yang sudah kosong, saya pun menyimpan detergen tersebut disana dengan tetap menyisakan beberapa ml karena kapasitas botol pewangi lebih sedikit dari isi detergen cair kemasan refill.
Setelah mencoba memberi detergen cair sesuai petunjuk di kemasan, saya mengecek air di dalam mesin cuci. Dan ternyata, menurut penilaian saya, detergennya masih harus ditambah. Jika tadi saya memberi 30ml, kali ini saya menambahkan 30ml lagi. Setelah di cek kembali, rasanya sudah cukup untuk level air di mesin cuci yang saya pilih. Saya pun merendam cucian kemudian memilih untuk menyetrika. Semua cerita ini diketahui oleh suami karena saya mengerjakannya sambil live update dari dapur kepada suami 😆
Suami lalu berkata kalau ada celana panjang yang juga harus dicuci karena akan dipakai di hari Sabtu. Saya yang sedang menyetrika, memintanya untuk memasukkan sendiri celana tersebut ke mesin cuci yang kebetulan belum dioperasikan karena masih tahap perendaman. Saya lalu memintanya untuk mengecek apakah level airnya harus ditambah, jika iya maka detergennya pun mungkin harus ditambah.
Suami berkata kalau detergennya harus ditambah. Saya merespon dengan seksama, maksud hati untuk mengingat jika level air low butuh sekian ml maka jika level air mid akan butuh berapa ml. Lalu apa yang terjadi? Ketika saya tanya:
"Jadi tadi Abi tambah 30ml lagi ya? Cukup bi segitu?"
"Iya sekitar 30ml lah.."
Perasaan mulai tak enak.
"Koq sekitar? Emang Abi ngga ngukur pake sendok detergen kaya ummi tadi?"
"Hehe, engga"
"Loh gimana sih bi, kan kita lagi ngukur kebutuhan detergennya segimana. Makanya ummi tambahinnya per 30ml. Kenapa ngga diukur sih bi?"
Lalu perasaan mulai tak enak karena feeling saya mengatakan suami mengambil detergen bukan dari sisa di kemasan melainkan dari yang sudah tersimpan aman di botol bekas pewangi pakaian.
"Abi, selain ngga diukur, pasti Abi ambil detergennya dari botol ya? Bukan yang sisa di kemasan?"
"Iya hehe, tadi ngukur ke tutup botolnya, adalah segitu mah 30ml, ngga penuh sebotol koq"
Huwaaaaa....
Langsung deh saya mulai berpidato sambil cemberut.
![]() |
| (Ini dia tokoh utama dalam cerita "Sang Detergen") |
Setelah mencoba menenangkan diri, saya berandai-andai jika saja tadi saya berbicara lebih jelas kepada suami mungkin insiden tadi tidak akan terjadi. Clear and clarify. Begitu seharusnya. Tadi saya menganggap suami akan mengerti dan mengikuti langkah yang saya lakukan karena dia tahu proses sedari awal sekali. Nyatanya tidak ya, hahaha...
Mungkin tadi harusnya saya berkata:
"Kalau airnya kurang, tambah jadi ke level berikutnya. Kalau detergennya terasa kurang, tambah lagi 30ml dulu terus cek lagi. Ambil detergennya dari yang sisa di kemasan ya.."
Yah, akhirnya tantangan hari ini bukan bab komunikasi dengan anak, tapi dengan suami. Saya mengambil pelajaran hari ini. Sangat terasa, jika memang kita sendiri lah yang bertanggungjawab akan pesan yang ingin kita sampaikan ke lawan bicara kita. Apalagi kepada seseorang yang sebenarnya kita sudah tahu persis karakternya. Kita harusnya lebih menyesuaikan diri agar pesan bisa sampai dengan tepat. Karena saat pesan itu tidak sampai dengan baik, kita sendiri pula lah yang merasakan akibatnya. Dan itu sangat tidak baik untuk kesehatan jiwa di kala PMS melanda 🤣🤣🤣
Beginilah akhir kisah dari cerpen berjudul "Sang Detergen" yang mengawali hari saya. Semoga teman-teman bisa mengambil pelajaran sehingga tak perlu merasakan apa yang saya rasakan yaa... Hahaha...
Oh ya, setelah insiden tadi, kami ada keperluan mentransfer uang dari ATM. Kami pun pergi ke minimarket terdekat dengan fasilitas ATM. Disana saya melihat sebatang coklat sedang dalam masa promo. Saya pun memberi kode pada suami yang sedang mengantri ATM. Tanpa perlawanan, suami mengangguk. Nah, kali ini pesan saya sangat jelas sampai padanya dengan baik. Raut wajah saya sepertinya jelas terbaca seperti ini:
"Pokoknya aku mau ini! Kalau ngga boleh, sisa harimu tak akan membaik" 😂
Nah begitulah, selalu ada hikmah di setiap peristiwa. Ada kemudahan setelah kesulitan, ada pelangi setelah hujan, dan ada coklat setelah detergen. Wehehehe...
Love,
dienemon


Tidak ada komentar:
Posting Komentar