Senin, 06 November 2017

Tantangan Komunikasi Produktif Bunsay (5)

Batujajar 
Senin, 6 November 2017

Wah, ternyata sudah lima hari tantangan ini dipraktekkan. Insiden tadi malam ketika draf tulisan belum dipublikasikan tepat pada waktunya masih mempengaruhi mood hingga jelang siang hari. Kids zaman now mungkin akan mengatakan: gagal move on. 
Tapi hidup jalan terus, tantangan juga harus dilakukan. Hehehe...
Alhamdulillah mood membaik pada akhirnya.

Tadi sore disini hujan turun deras sekali. Saya yang memiliki sedikit trauma dengan hujan jadi merasa agak khawatir kemudian mencoba menenangkan diri dengan berdoa. Tapi rasanya harus mencari kesibukan lain supaya fokus teralihkan. Akhirnya saya mengambil alat dan bahan untuk membuat prakarya, mengeksekusi ide yang tadi siang sudah muncul di kepala. 

Saya menyiapkan segala sesuatu yang saya perlukan, Kaysan pun begitu. Dia memilih untuk melukis. Kaysan mengambil sendiri kertas dan pensil warna yang bisa disapu kuas menjadi cat air. Tapi ternyata dia tidak menggunakan kuas sebagai media melukisnya melainkan memakai mainan yang memiliki rambut menyerupai kuas. 


Saya mencoba menahan diri untuk tak langsung menyuruhnya mengganti mainan tersebut dengan kuas. Inilah percakapan yang terjadi:

Saya: "Kei, melukisnya pake itu ya? Emangnya bisa ya Kei?"
Kaysan: "Bisa ummi, ini liat kan rambutnya kaya kuas"
Saya: "Iya sih mirip kuas ya, tapi kenapa ngga pake kuas aja?"
Kaysan: "Ngga apa-apa, bisa koq..."
Saya: "Ya sudah. Airnya sedikit aja ya, diperes dulu"
Kaysan :"Iya. Aku kasih air dulu ya.."

Lalu Kaysan mulai melukis.

Kaysan: "Yah ummi, ini jadi lembab."
Saya: "Maksudnya jadi becek ya, kebanyakan airnya?" Tadi sudah diperes atau belum?"
Kaysan: "Udah tadi aku peres dulu."
Saya: "Oh, gimana kalau coba pake kuas Kei? Mungkin kalau pake kuas ngga akan becek banget jadinya."
Kaysan: "Iya deh."

Dan mulailah ia mengganti mainan tadi dengan kuas.

Saya bersyukur karena tadi saya sempat menahan diri membiarkan imajinasinya berkembang terlebih dahulu. Toh pada akhirnya dia menyadari sendiri kalau memang rambut si mainan tidak berfungsi sebaik kuas dan menggantinya dengan kuas. Jika saya menolak sejak awal, mungkin Kaysan malah akan menangis. Lalu saya pun tak bisa tenang membuat prakarya. Dengan pilihan kalimat tadi, alhamdulillah saya pun berhasil menyelesaikan prakarya yang ingin saya buat, meski tak sesuai rencana awal. Ini dia penampakannya:



Alhamdulillah, satu lagi latihan yang bisa saya praktekkan hari ini.
Meski di kesempatan lain tetap ada kesalahan disana dan disini. Tapi saya yakin,

Practice makes perfect

Love,
dienemon



Tidak ada komentar:

Posting Komentar