Sabtu, 25 November 2017
Kata-kata atau pilihan bahasa tak pernah turun dari langit begitu saja, tetapi lahir secara ideologis meski pembuatnya sendiri kadang tak menyadarinya
(Edi Santoso, 2010)
Secara kebetulan (walau sebenarnya tidak ada yang kebetulan di dunia ini), tadi pagi membaca kalimat di atas yang dimuat dalam fitur catatan di Facebook yang saya tulis di tahun 2010. Lalu siang ini diingatkan bahwa ada tugas untuk menuliskan aliran rasa mengenai materi komunikasi produktif di kelas Bunda Sayang IIP.
Ah, nyambung banget ini mah...
Ya begitulah ternyata, kata-kata/pilihan bahasa kita dipengaruhi oleh banyak faktor.
Adanya materi komunikasi produktif menjadi salah satu faktor yang memberi perbedaan yang cukup signifikan dalam cara saya memilih kata.
Menjalankan tantangan selama 10 hari sama artinya dengan melatih diri ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam berbahasa, khususnya dengan Kaysan.
Saya menggambarkannya seperti memiliki sebuah alarm bahasa.
Saat akan berbicara dengan Kaysan, saya mulai terbiasa menahan diri untuk kemudian berpikir apakah ini tepat atau tidak (sambil mencoba mengingat poin-poin materi yang diberikan).
Dan jika terlanjur membuat kesalahan, saya menyadarinya kemudian.
Bagi saya ini sudah merupakan awal yang baik.
Menahan diri dan menyadari kesalahan dalam berbahasa insya Allah akan menjadi pembuka jalan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam berbahasa.
Tentu saja harus dilanjutkan dengan pembiasaan terus menerus serta menambah lagi pemahaman tentang ilmu komunikasi produktif.
Intinya, saya sangat bersyukur bisa menjalankan tantangan ini. Mendapat ilmu baru dan ilmunya terasa sangat bermanfaat. Mudah-mudahan saya bisa terus mencoba memperbaiki lagi pola komunikasi saya meski tak lagi ada "tugas resmi" yang harus dilakukan.
Aamiin.
Love,
dienemon

Tidak ada komentar:
Posting Komentar