Jumat, 30 Maret 2018
Memasuki tantangan hari kedua di game level 6 ini saya belum merencanakan suatu kegiatan khusus untuk menstimulasi kecerdasan matematika logis pada diri Kaysan. Terus terang saja, jika sedang berada di Cimahi, Kaysan lebih banyak bermain kesana kemari dan cukup sulit jika harus mengikuti agenda yang saya rencanakan. Jadi saya hanya berharap AHA! momennya muncul begitu saja. Hehehe...
Alhamdulillah, harapan saya terkabul. Tadi kebetulan kakak saya membeli kue tart yang dilengkapi beberapa buah lilin. Karena memang tidak akan dipakai, lilin itu diberikan pada Kaysan. Tapi ternyata Kaysan penasaran ingin menyalakan lilinnya (untuk kemudian ditiup). Sambil menyalakannya dan tetap sambil mengawasi Kaysan, saya bertanya pada Kaysan ada berapa jumlah lilin yang ia miliki.
"Kei, ada berapa itu lilinnya?"
"Ada tiga. Asalnya ada empat, tapi yang satu tadi aku rusakin. Jadi sekarang tinggal tiga deh"
"Gimana jarinya kalau tiga?"
"Gini! Tiga!" (Menunjukkan jarinya)
"Oh iya betul"
AHA! momen yang kedua adalah ketika ada penjual minuman susu fermentasi langganan datang ke rumah. Saya juga suka ikut membeli disini untuk dibawa ke rumah Batujajar. Saya meminta Kaysan untuk memberi tahu penjualnya bahwa saya akan membeli sebanyak dua pak. Kaysan pun semangat keluar untuk memberi tahu penjualnya. Tapi ternyata, dia mengganti redaksi kalimat dari saya.
"Bu, aku beli 10 ya" itu yang terdengar.
Lalu saya pun meralatnya dari dalam.
"Bilangnya beli 2, Kei..."
"Ih engga, bener ummi, aku belinya 10. Kan satu bungkus isinya ada 5. Aku belinya dua jadi dapetnya 10"
"Ohh....iya, isinya dapet 10 nanti. Lima ditambah lima jadi 10 ya?"
"Iya bener, jadi aku ngomongnya beli 10"
Menjelang sore, ternyata ada lagi AHA! momen. Yaitu ketika ia jajan cireng. Hehehe... Kaysan memesan dua buah cireng pada penjualnya. Lalu saya katakan bahwa saya juga ingin membeli dua buah.
"Kei, ummi mau dua ya!"
"Iya siap mi, mau rasa apa aja?"
"Rasa keju aja dua-duanya. Jadi berapa coba kita beli cirengnya?"
"Aku dua, ummi dua, jadi empat"
Lalu kakak saya meminta Kaysan untuk membelikannya juga dua buah cireng. Saya pun bertanya lagi pada Kaysan.
"Kei, jadi sekarang berapa beli cirengnya?"
"Punya ummi dua, aku dua, uwa dua. Jadi enam deh!"
"Bener... Ini uangnya ya, cirengnya dua ribuan, jadi beli enam bayarnya Rp. 12.000. Uangnya pas ya, ngga kembalian"
Kaysan terkadang masih belum mengerti, bahwa tidak semua uang yang kita bayarkan itu harus ada kembaliannya. Dia pun membawa keluar uang yang saya beri sambil berkata pada penjual cireng
"Mang, ini uangnya Rp. 12.000 ngga kembalian ya..."
Begitulah tiga momen matematis (hehe) yang terjadi hari ini. Momen yang tidak direncanakan tapi terjadi begitu saja. Ternyata memang matematika itu akrab dalam keseharian kita. Semoga saja Kaysan bisa menangkap konsep dasar dari matematika ini sehingga mengganggapnya seperti hal yang biasa saja, bahkan menarik, bukannya hal yang membuat pusing.
Love,
dienemon
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs

































