Kamis, 31 Mei 2018

Semua Anak adalah Bintang (10)

Cerita kali ini lagi-lagi berhubungan dengan buku Ensiklopedi Bocah Muslim. Kemarin kaysan minta dibacakan kisah tentang Ka'bah.

Cerita dimulai dengan ilustrasi gambar Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sedang membangun Ka'bah. Kaysan sudah tahu cerita ini sebelumnya dari buku yang lain, yaitu Kisah 25 Nabi dan Rasul. Ada juga sekilas cerita tentang Raja Abrahah dan pasukan gajah yang ingin menghancurkan Ka'bah. Cerita ini pun sudah ia dapat sebelumnya di bagian buku yang lain dan juga dari buku fabel.

Di halaman selanjutnya, dibahas mengenai bagian-bagian Ka'bah. Ada nama dan keterangan yang diberikan disana. Saya pun membacanya satu per satu. Mulai dari kiswah, pintu Ka'bah, tembok Ka'bah, Mizab Rahmah, Al Hatim.



Lalu tibalah saat saya menyebutkan Maqam Ibrahim, yaitu tempat berdirinya Nabi Ibrahim ketika membangun Ka'bah. Tempat selanjutnya Hijir Ismail, yaitu tempat Nabi Ismail berdiri saat membantu Nabi Ibrahim membangun Ka'bah. Saya sengaja membacakannya berurutan. Agar lebih mudah untuk Kaysan memahami. Setelah menyebutkan dua hal tersebut, saya menyebutkan bagian yang lain, yaitu Hajar Aswad.


Sebelum membacakan apa itu Hajar Aswad, saya coba bertanya pada Kaysan

"Kaysan tau ngga hajar aswad itu apa?"

Lalu dia memberi jawaban yang membuat saya tertawa.

"Eh aku tau mi, hajar aswad berarti tempat berdirinya ibunya Nabi Ismail ya!"

"Hah? Bukan, Kei..."

"Ih bener mi, kan kaya yg tadi namanya (Maqam Ibrahim, Hijir Ismail). Terus kan namanya ibunya Ismail kan Siti Hajar. Jadi hajar aswad teh tempat berdirinya ibunda hajar."

Saya tak bisa menahan tawa sekaligus kagum karena Kaysan sudah belajar mengasosiasikan. Karena dua tempat sebelumnya yang saya sebutkan adalah "tempat berdirinya ...", maka hajar aswad pun dianggap seperti itu. Dan karena ada kata Hajar disana, jadi Kaysan mengambil kesimpulan kalau hajar aswad adalah tempat berdirinya ibunda Hajar. Hihi....

Membaca itu memang jadi gudang ilmu. Kaysan banyak belajar dari membaca. Proses seperti mengasosiasikan, menyimpulkan seperti kasus di atas adalah salah satu contoh manfaat dari membaca. Semoga dengan semakin sering membaca buku, Kaysan juga semakin belajar banyak hal.

Love,
dienemon


Semua Anak adalah Bintang (9)

Pada catatan sebelumnya, saya menuliskan cerita tentang Kaysan yang sangat senang memakai kartu pengenal lalu disempurnakan dengan pakaian yang mendukung penampilannya menjadi seperti seorang pekerja kantoran. Nah, selain berseragam sebagai pekerja kantoran, ada satu lagi seragam yang sering sekali dia pakai. 

Seragam yang ini terdiri dari celana panjang, sarung tangan, kacamata hitam, topi, sebuah alat semacam senjata, kaos kaki dan sepatu. Biasanya naik sepeda atau mobil-mobilan plastik. Lalu jadi apakah itu? Paling sering menjadi polisi, tentara, di lain kesempatan jadi pemadam kebakaran, bisa juga menjadi montir. Hahaha.. Tergantung Kaysan sedang ingin menjadi apa.

(Dalam video ini dia tidak memakai celana panjang karena tak berhasil menemukannya. Juga tidak memakai topi karena tidak membawanya ke rumah nenek)


Semua kelengkapan "seragam" ini dia pakai sendiri. Padahal biasanya celana, sarung tangan itu harus dibantu dipakaikan jika dalam kondisi normal. Tapi jika ia sedang bermain peran, dia akan mengambil sendiri celana dari lemari lalu berusaha memakainya sendiri. Begitu juga dengan sarung tangan, kaos kaki dan sepatu. Semuanya ia pakai sendiri. 

Kaysan sangat sering bermain peran seperti ini. Dia selalu antusias saat bermain menjadi polisi atau tentara atau pemadam atau montir ini. Mungkin salah satunya adalah profesi yang menjadi cita-citanya Kaysan? Bisa jadi. Hehe...
Sekali lagi ummi coba bisa mendoakan dan mendukung kamu, Kei...
Profesi apapun yang kamu pilih nanti, semoga tetap membawamu dalam keridhoan Allah.
Aamiin.

Love, 
dienemon

Semua Anak adalah Bintang (8)

Bulan ramadan ini kami bertiga selalu ikut salat tarawih berjamaah di lingkungan komplek tempat kami tinggal. Karena belum memiliki masjid, jadi kami melaksanakan sholat tarawih di jalan komplek yang cukup lebar. Panitia menyiapkan tenda dan juga alas untuk para jamaah.

Belakangan ini kondisi saya kurang memungkinkan untuk ikut salat berjamaah disana. Jadilah Kaysan pergi berdua saja dengan abinya sementara saya salat isya dan tarawih di rumah saja.




Suatu hari sepulang tarawih dimana hari itu abinya menjadi imam, Kaysan bercerita pada saya bahwa tadi Abi ceramah dan menyebutkan ayat Al-Qur'an yang ia dengar di dalam lagu Ramadan Kurindu. Ayat yang dibaca adalah QS Al-Baqarah: 183, ayat tentang perintah puasa. Ketika saya mengkonfirmasinya kepada suami, ternyata benar bahwa suami menyampaikan kultum dan membacakan ayat tersebut. Menurut suami saya, Kaysan seperti tak menyimak tapi ternyata ia mendengar apa yang abinya sampaikan.

Esok harinya, abinya menjadi imam kembali karena menggantikan jadwal imam yang berhalangan hadir. Lalu saya iseng bertanya kepadanya, kali ini Abi berceramah tentang apa. Lalu dia mengatakan, Abi berceramah tentang doa pengantin. Doa yang ada lagunya di video pernikahan ummi dan abi. Hahaha... Dan ternyata benar. Entahlah suami saya membahas soal apa di kultum koq bawa-bawa doa pengantin, hehehe 😅

Yang menjadi poin disini, ternyata Kaysan punya daya tangkap dan daya ingat yang cukup baik. Meski pada kenyataannya dia seperti tak menyimak, tapi dia ternyata tahu persis apa yang dibahas dalam ceramah. Meski tentu tak mengingat semuanya, tapi minimal ia tahu topik apa yang dibahas di dalam ceramah tersebut dan bisa menceritakannya kembali kepada orang lain. Satu kemampuan yang akan menjadi modal yang penting di kemudian hari menurut saya. Mudah-mudahan kelak Kaysan menjadi anak yang tumbuh menjadi anak yang cepat daya tangkap dan daya ingatnya dan bisa menggunakan kemampuannya di jalan kebaikan.

Love,
dienemon

Semua Anak adalah Bintang (7)

Rumah mungil kami hanya memiliki dua kamar tidur. Sampai saat ini kamar yang benar berfungsi sebagai kamar tidur baru satu saja, yaitu kamar depan. Mengapa? Karena Kaysan masih tidur bersama kami.

Mengingat usianya yang terus bertambah dan akan memasuki usia 5 tahun di bukan Oktober nanti, kami pun mulai sounding agar nanti usia 5 tahun ia akan tidur sendiri di kamar belakang, yang memang sudah kami sebut sebagai kamar miliknya.

Sebetulnya kami sudah mulai ingin membiasakannya sejak sekarang. Masalahnya, kami memang belum memiliki kasur untuk kamar belakang. Hehe...
Karena satu dan lain hal, rencana membeli kasur jadi tertunda. Yang baru kami siapkan hanyalah set sprei nya.

Lalu beberapa waktu lalu, kami berencana mengadakan kegiatan buka bersama di rumah kami dengan teman kerja suami. Untuk itu, kami pun mengatur rumah supaya cukup luas untuk menerima tamu nanti. Sofa bed yang ada di ruang tamu, kami pindahkan dulu ke kamar belakang.

Kaysan ternyata senang karena bisa tidur-tiduran di kamarnya memakai sofa bed. Dia mengajak saya untuk mencoba tidur disana. Abinya lalu memberi ide untuk memasang seprei pada sofa bed tersebut. Dan aha! Itu semakin membuat Kaysan senang.

Saat akan tidur siang dia mau mencoba tidur disana. Tapi saat saya bertanya apakah ia mau tidur malam disana, ia menggelengkan kepala dengan beralasan

"Kan kata ummi untuk nanti 5 tahun. Sekarang kan belom. Jadi nanti lah aku tidur malem sendirian ya"

Saya mengapresiasi apa yang dikatakannya dan mudah-mudahan memang nanti saat waktunya, ia akan berani tidur terpisah dari kami. Memakai momen ulang tahun telah berhasil sebelumnya saat 4 tahun. Saat itu saya meminta ia melakukan beberapa hal sendiri, tak lagi dibantu kami orangtuanya. Dan ternyata berhasil. Maka kali ini pun saya harus percaya dan optimis, bahwa Kaysan nanti pada waktunya bisa dan berani untuk tidur sendiri di kamarnya. Dan tentu saja, sebelum semua itu, kami harus menyiapkan kasurnya. Semoga ada rezekinya ya Kei...
Aamiin.

Love, dienemon


Semua Anak adalah Bintang (6)

Dalam seri buku Ensiklopedi Bocah Muslim, ada satu buku yang berisi beragam ide permainan dan percobaan. Kaysan sangat senang membolak-balik halaman buku ini. Mengajak saya mencoba permainan dan percobaan ini dan itu.

Kemarin waktu kami pergi ke sebuah supermarket dan melewati rak bahan kue, Kaysan melihat pewarna makanan. Seketika dia pun meminta saya untuk membelinya. Saya yang memang sudah berjanji akhirnya membeli dua botol kecil pewarna makanan.

Sesampainya di rumah, Kaysan tak sabar untuk bermain-main dengan pewarna tersebut. Karena belum ada ide lain, jadi kali ini dia hanya ingin mencoba mencampur-campur warna saja. Dia menyiapkan semuanya sendiri. Saya hanya memberitahunya alat mana yang sebaiknya ia siapkan. Saya memintanya mengambil gelas atau mangkok plastik saja supaya lebih aman digunakan (menghindari pecah).

Setelah semua siap di teras rumah, mulailah ia meneteskan pewarna ke dalam gelas-gelas yang sudah disiapkannya. Mengaduk-aduk, bercerita sendiri. Lalu satu waktu, dia meneteskan pewarna kuning tepat di gelas yang juga berwarna kuning.

"Ummi, ini udah dikasih pewarna sama aku yang warna kuning, tapi kok warna airnya ngga berubah yah, kenapa yah?"

Saya tak langsung menjawab. Saya malah balik bertanya

"Ayo, kenapa coba? Kira-kira Kaysan tau ngga alasannya kenapa airnya ngga keliatan kuning?"

Kaysan tampak berpikir...

"Oh, aku tau mi! Karena warnanya sama dengan gelasnya, jadi ngga keliatan"

"Nah, betul!!! Coba kalau Kaysan pindahin ke gelas yg lain, pasti warna air kuningnya keliatan"

"Oh iya mi bener"

Alhamdulilah, dalam kegiatan permainan kali ini saya melihat Kaysan sudah makin terlihat kemampuannya dalam berpikir logis. Sudah mulai bisa tahu sebab-akibat. Semoga makin penasaran dengan percobaan yang lain, supaya kamu jadi semakin banyak tahu ya Kei...

Love,
dienemon



Semua Anak adalah Bintang (5)

Kaysan selalu tertarik dengan kartu tanda pengenal yang dipakai abinya setiap bekerja. Setiap kami mendapat kartu pengenal semacam yang didapat dari seminar-seminar, pastilah akan jadi milik Kaysan. Nanti kartu pengenal itu akan dia pakai terus saat di rumah maupun sedang bermain bersama temannya di luar rumah.

Kemarin abinya mendapatkan ID card holder baru. Karena sudah tahu Kaysan akan tertarik, maka ia bawa pulang ke rumah dan memberinya untuk Kaysan. Kaysan tentu saja senang. Ia langsung meminta saya menuliskan namanya pada ID card tersebut. Dan saat akan pergi salat tarawih, ternyata dia ingin memakainya.
Tak hanya itu, dia juga meminta saya memakaikan rompi. Jadilah ia bercelana panjang, memakai kaos, memakai rompi, juga memakai peci. Hahaha...




Dia selalu senang ketika bisa "berpakaian kantor" lengkap dengan kartu pengenal seperti itu. Sepertinya dia pikir itu keren. Hehe... Atau mungkin memang ada minat untuk bekerja kantoran juga seperti abinya? Hehe...

Jadi apapun kamu nanti, yang terpenting kamu tetap menjadi hamba Allah yang saleh yang mencari rezeki yang halal dan berkah.

Love,
dienemon

Semua Anak adalah Bintang (4)

Sejak memiliki buku-buku baru yaitu Ensiklopedi Bocah Muslim, Kaysan semakin sering meminta dibacakan buku. Terkadang, pada waktu yang saya dan suami pikir kurang tepat. Yaitu saat kami sudah cukup letih. Hehehe... Saya bisa membacakan banyak sekali kisah dalam satu hari. Suami juga sering diminta untuk membacakan buku sepulang bekerja.

Begitu juga saat bulan ramadan ini. Kaysan meminta dibacakan buku sepulang kami tarawih. Belum sempat ia dan abinya berganti baju, Kaysan sudah siap dengan buku yang ingin dibacakan.

Dia biasanya punya kisah favorit yang ingin dibacakan. Jadi meski banyak kisah di dalam buku yang belum terbaca, jika ia sudah menyukai satu kisah maka ia akan meminta dibacakan kisah tersebut berulang kali. Tapi kali ini dia meminta dibacakan kisah baru yaitu tentang Raja Abrahah dan pasukan gajah. Dia tertarik melihat ilustrasi gambarnya pada buku.



Ketika dibacakan kisahnya, Kaysan teringat akan buku fabel miliknya. Ternyata sebelumnya ia sudah sempat melihat sekilas tentang kisah pasukan gajah ini di buku fabel, yaitu saat melihat-lihat buku tersebut bersama kakak saya.

"Ummi, ini ada juga di buku yang binatang mi. Aku pernah liat waktu sama uwa"

Dia pun mengambil buku fabelnya dan meminta dibacakan juga kisah pasukan gajah dari buku tersebut.

Alhamdulilah, Kaysan sudah mulai menunjukkan kemampuannya dalam mengingat dan menyambungkan kisah yang satu dan yang lainnya. Kemampuan yang layak untuk diapresiasi dan terus diasah.

Love,
dienemon

Semua Anak adalah Bintang (3)

Ramadan kali ini, Kaysan mulai tertarik untuk ikut berpuasa. Saya yang merasa belum pernah melatihnya, mengapresiasi keinginannya untuk ikut berpuasa. Suasana Ramadan terbangun karena ada sebuah lagu yang sering saya nyanyikan bagian reff nya saja, yaitu

"Ramadan tiba, ramadan tiba, ramadan tiba. Marhaban yaa ramadan, marhaban yaa ramadan..."

Selain itu kebetulan Kaysan memiliki beberapa buah balon yang dibeli saat saya belanja ke toko bahan kue. Lalu saya mengajaknya untuk meniup balon-balon tersebut sebagai salah satu cara kami mengekspresikan kebahagiaan menyambut bulan ramadan. Selain itu, Kaysan juga tanpa diminta jadi sering membaca buku Halo Balita yang berjudul Aku Belajar Puasa.

Ketika ramadan datang, benar saja Kaysan mau dibangunkan untuk makan sahur. Meski ia terkantuk-kantuk, tapi ia mau makan dan minum. Lalu setelah itu segera tidur kembali. Hehe...

Saya mengatakan padanya, karena ia masih belajar, maka ia boleh membatalkan dulu puasanya saat merasa tidak kuat menahan lapar dan haus. Lalu nanti dia boleh mencoba berpuasa kembali setelahnya. Dan saya mengusulkan waktu Dzuhur untuk ia membatalkan dulu puasanya. Ia pun setuju.

Lalu tiba-tiba, dia mengatakan sesuatu kepada saya.

"Ummi, tapi nanti kalau aku lagi di Baros, aku mau buka puasanya ngga pas Dzuhur ya. Mau jam 1 aja"

"Kenapa emangnya?"

"Biar aku pas bukanya bisa beli eskrim"

Ya ampun, Kei...




Kaysan ini memang saya perhatikan sudah mulai bisa berpikiran jauh ke depan. Seperti pada kisah ini. Dia ingin ikut berpuasa tapi juga tak mau melewatkan untuk bisa membeli eskrim kesukaannya. Maka dari jauh hari, ia sudah bisa merencanakan seperti itu 😂

Saya pun mencoba memberi pengertian bahwa kemungkinan besar penjual eskrim langganannya tidak akan berjualan. Saya jelaskan karena pembelinya sedang berpuasa maka penjual eskrim pun biasanya akan libur berjualan untuk sementara.

Kaysan tampak berpikir dan mengamini apa yang saya katakan. Tapi Kaysan lalu berkata lagi:

"Iyah mi, bisiiii ini mah mi, bisiiii mang eskrim nya tetep jualan. Kalau tetep jualan, aku buka puasanya pas mang eskrim lewat ya mi..."

Baiklah, Kei... Hahaha...

Kamu memang sudah tumbuh semakin besar, Kei...
Sudah bisa berpikiran jauh, mengatur rencana seperti itu.
Semoga kemampuannya semakin terasah di kemudian hari.

Love,
dienemon

Semua Anak adalah Bintang (2)

Aktifitas menggambar dan mewarnai sepertinya tidak terlalu menarik bagi Kaysan. Bisa jadi saya yang kurang memberikan stimulus. Tapi suatu hari ketika saya mengajaknya untuk menggambar, dia menggambar beberapa bentuk yang membuat saya cukup terkejut. Mengapa terkejut? Karena bentuknya tidak asal dan saya pun bisa menebak dia sedang menggambar apa. Saat itu, dia menggambar sebuah bis, seekor kelinci dan seekor buaya. 

Wah, ternyata dia bisa! 

Setelah peristiwa itu, saya lebih sering mengajaknya untuk menggambar atau mewarnai. Tapi ketika waktunya mewarnai, Kaysan terlihat kurang percaya diri. Seingat saya, saya tidak pernah memaksa dia untuk mewarnai dengan rapi. Tapi mungkin dia melihat orang lain atau mungkin melihat di YouTube. Sehingga dia selalu meminta saya yang mewarnai supaya hasilnya rapi. 

Saya mencoba membangkitkan rasa percaya dirinya. Tapi masih belum berhasil. 

Sampai kemarin, dia mengatakan ingin menggambar di kalender bekas. Lalu saya lihat dia membuat bentuk abstrak. Ketika saya tanya, dia menjawab:

"Aku teh lagi buat pinggirannya dulu ummi. Abis ini aku mau mewarnai dalemnya."

Wah, saya rasa ini sebuah kemajuan..

Betul saja, setelah membuat bentuk abstrak yang dia sebut sebagai pinggirannya, dia mulai mewarnai bagian dalam gambar tersebut. Kali ini dia tampak tak peduli hasilnya akan rapi atau tidak. Yang jelas saya lihat dia semangat sekali mewarnainya. Sampai akhirnya bagian dalam gambar tersebut selesai diwarnai semua. 

Alhamdulilah, kamu berhasil mengalahkan rasa tak percaya diri itu, Kei! 


Coretan berwarna biru itu katanya tulisan dokter. Dia melihatnya di YouTube 😂

Love,
dienemon
 

Semua Anak adalah Bintang (1)

Menggali bakat dan minat anak bukanlah pekerjaan yang instan. Orang tua harus bisa mencermati setiap perilaku anak untuk setidaknya mulai membaca kemana arah minat dan bakat anaknya. Untuk itulah tantangan ini dibuat.

Memasuki bulan ramadan, saya menemukan sebuah video lagu bertajuk Ramadan Kurindu. Yang menyanyikannya yaitu sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak perempuannya. Saya sudah mengira jika Kaysan melihat ini pasti dia akan sangat tertarik. Dan benarlah apa yang saya duga. Sekali saja melihat videonya, Kaysan meminta saya untuk terus memutar video tersebut.

Tak cukup hanya menonton video, Kaysan tiba-tiba memakai celana panjang. Lalu mengambil lego pipa miliknya. Tadinya saya tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Tapi akhirnya saya paham. Ternyata dia bermaksud meniru gaya penyanyi di dalam video. Video tersebut diambil di sebuah studio rekaman. Sehingga lengkap peralatannya seperti mikrofon dan headset.

Nah, Kaysan menyusun lego pipanya supaya menyerupai bentuk mikrofon dan headset tersebut. Sudah memakai celana panjang, sudah ada mikrofon dan headset, Kaysan pun akhirnya beraksi. Badannya sedikit bergoyang mengikuti irama lagu sambil memegang mikrofon layaknya seorang penyanyi di atas panggung. Hahaha....



Awalnya hanya di kasur, lalu ia meminta untuk melakukannya di teras rumah. Kali ini dia memakai sepatu pantofel miliknya. Lagu yang baru didengarnya pun sudah mulai ia hafal dengan baik. Lalu dia beraksi lagi di teras rumah.



Ah Kei, kamu memang beda dengan Ummi.
Semoga keberanianmu untuk tampil seperti itu bukan hanya di depan Ummi ya...
Kamu harus berani dan percaya diri dimanapun kamu berada.
Semoga terus terasah hingga kamu besar nanti.

Love,
dienemon