Ahad, 21 Januari 2018
Jalan Menuju Orang Tua Sholih (aku siap punya anak sholih)
bersama
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari (Abah Ihsan)
π Mengapa Kita Harus Belajar?
1. Belajar adalah perintah Allah
πAyat Al-Qur'an yang turun pertama kali adalah: Iqro!
π Saat seseorang berhenti belajar, maka akan berhenti pula kebaikannya.
2. Zaman telah berubah
π Orang tua harus bisa beradaptasi dengan perubahan zaman
π Orang tua zaman dahulu tidak memiliki kompetitor seperti sekarang. Contoh: pengaruh televisi, internet
π Keteladanan saja tidak cukup untuk membuat anak jadi sholih. Kita perlu ilmu untuk mendidik anak-anak kita.
3. Agar tidak tersesat
π Saat kita belajar, seolah kita memiliki GPS. Akan ada usaha dan pengorbanan yang harus dilakukan tapi itu bisa menunjukkan kita jalan agar tidak tersesat.
π Jika kita tidak mau belajar, maka kemungkinan besar terjadi celaka itu sangat besar
π‘ Dalam pendidikan anak, ayah harus terlibat. Jika ayah tak ikut terlibat dalam pendidikan anak, kajian ilmiah menunjukkan akan banyak dampak negatifnya
π‘ Ibu lebih memperhatikan tumbuh raga anak, Ayah lah yang harus memperhatikan tumbuh jiwa anak
π‘ Seperti proses membuat sebuah bangunan, dalam mendidik anak pun merenovasi itu lebih mahal daripada membangun dari awal
π‘Jika ingin anak menjadi sholih, kita harus menjadi orang tua yang sholih terlebih dahulu. Dan untuk menjadi orang tua yang sholih, kita harus mau belajar / menuntut ilmu.
π‘ Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia diperlakukan di masa lalunya
π‘Pola asuh sangat berperan besar dalam kehidupan
π‘Jika ada orang dewasa yang menyusahkan orang lain, sesungguhnya ia sedang berbagi penderitaannya
π‘Seorang anak bisa membahagiakan orang lain hanya jika dirinya sendiri bahagia. Karena kita tak mungkin membagi apa yang tidak kita miliki.
π‘Jika anak salah urus, lalu menyusahkan orang tuanya, itu sangat wajar. Yang lebih berbahaya, anak salah urus itu juga akan menyusahkan banyak orang, bukan hanya orang tuanya.
π‘ Orang tua yang BERHASIL adalah orang tua yang bisa menyiapkan anak untuk berpisah dari mereka
π‘ Mengapa dalam Islam, memilih pasangan hidup itu pertama harus dilihat dari agamanya lalu nasabnya (berasal dari keluarga baik-baik atau bukan)?
Karena pola pengasuhan akan sangat berpengaruh. Kita tentu tidak rela seandainya memiliki anak perempuan yang dididik dengan baik, tak pernah dicubit satu kali pun, lalu saat menikah diperlakukan kasar oleh suaminya.
π‘Jika orang tua tidak belajar, ada dua kemungkinan:
1. Trial / coba-coba
2. Menggunakan warisan. Apa maksudnya? Ketika seseorang terdesak dan tidak memiliki ilmu yang baru, maka ia akan mengambil memori dari masa lalu (warisan masa lalu)
π‘ Fitrah itu artinya suci, bukan kosong. Fitrah itu berisi dan isinya positif: mencintai kebaikan
π‘ Tugas orang tua adalah menumbuhkembangkan kebaikan, bukan menciptakan kebaikan.
π‘ Suami dan istri harus saling bekerjasama. Jika suami membantu pekerjaan istri, sesungguhnya bukan pekerjaan istri yang dibantunya, tapi ia sedang membantu jiwa istrinya
π‘ Yang harus diajarkan terlebih dahulu pada anak adalah keyakinan agama, bukan keterampilan agama. Karena mengajarkan keterampilan agama itu mudah, misal mengajarkan bacaan sholat.
π‘ ORANG TUA adalah orang, yang sudah tua, yang bisa mempengaruhi anak
π‘ Jika pengaruh orang tua besar, maka pengaruh lingkungan kecil. Berlaku juga sebaliknya. Maka kita sebagai orang tua harus bisa memiliki pengaruh yang besar terhadap anak
π‘ Beberapa contoh fitrah anak:
π Jujur, contoh anak balita yang senantiasa berkata jujur di segala kondisi. Meski terkadang memalukan, tapi itu ternyata memang fitrahnya.
π Senantiasa belajar. Allah mengatur tubuh balita hanya bisa bertahan sebentar saja melakukan satu kegiatan. Jadi ketika mereka tak bisa bertahan lama melakukan satu kegiatan, itu bukan karena mereka bosan. Tapi karena Allah mengaturnya supaya mereka belajar dan mengeskplorasi banyak hal baru. Kita yang harus faham akan hal itu.
π Patuh
π Kreatif. Tak pernah kita lihat ada ada balita yang menganggur. Mereka selalu memiliki ide-ide baru. Jika ada anak balita yang diam, justru itu yang tidak wajar.
π‘ Ketika di rumah kita banyak aturan yang diterapkan, itu bukan berarti untuk mengekang anak. Karena pada setiap batasan, ada juga satu kebebasan. Contohnya bermain air. Bukan main airnya yang dilarang, tapi yang tak boleh itu berlebih-lebihannya. Maka, buat aturan boleh main air tapi dengan kesepakatan misal air yang dipakai hanya satu ember saja
π‘ Orang yang bermasalah dengan harga dirinya dan ingin harga dirinya naik, akan merendahkan harga diri orang lain. Bagi orang tua, anaklah yang akan jadi pelampiasan. Karena anak adalah orang yang terdekat dan paling mudah untuk dijadikan pelampiasan. Maka jadilah anak diberi "sampah" oleh orang tua.
π‘ Saat orang tua mematikan perasaan anak, maka kebenaran juga akan mati.
Contohnya saat anak balita tak henti bertanya dan orang tua tak sabar menjawab. Padahal anak memang fitrahnya seperti itu.
π‘ Jika ada anak remaja atau orang dewasa yang bermasalah perilakunya, maka tanya mereka satu pernyataan saja:
"Sering ngobrol ngga sama ayah?"
π‘ Anak harus merasa nyaman di rumah. Tapi pada kenyataannya, banyak anak yang harga dirinya hancur di rumah. Telinganya panas mendengar nasihat yang terus menerus. Orang dewasa pun jika diberi nasihat sepanjang hari, akan merasa tak nyaman. Tak ada bedanya dengan anak. Anak pun akan merasa seperti itu.
π Maka sebagian nasihat itu menghancurkan. Nasihat seperti apa? Nasihat yang meskipun isinya benar, tapi over dosis
π‘ Belajar dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Nabi Ibrahim mengajak Ismail bicara saat ia diperintahkan Allah untuk menyembelihnya. Untuk suatu perkara yang besar dan memang perintah Allah, Nabi Ibrahim tetap mengajak Ismail berbicara terlebih dahulu. Padahal bisa saja jika beliau memilih langsung melaksanakan perintah Allah tersebut. Apalagi untuk hal-hal kecil dalam keseharian kita.
π‘ ANAK ITU DIAJAK NGOMONG, BUKAN DIOMONGIN
π‘ Saat kita mau berbicara dengan anak, bukan berarti untuk memenuhi semua kemauannya. Tapi ini semata untuk menghargai jiwanya.
π‘ Jadi bagaimana agar menjadi orang tua sholih?
1. Cari ilmu
2. Urus anak
π‘ Mengurus anak itu mendidik, baik fisik maupun jiwanya
π‘ Bersama dengan anak tidak sama dengan berada di dekat anak.
π‘ Saat bersama anak, kita harus fokus, tidak disambi dengan hal lain. Saat membersamai satu orang anak misalnya, berarti kita hanya berdua dengan anak. Tidak bertiga dengan HP, berempat dengan TV, berlima dengan kompor, berenam dengan cucian, dst...
π‘ Mengapa dalam hal mengajarkan sholat, anak disuruh mulai sholat sejak usia 7 tahun dan baru boleh dipukul jika tak melaksanakan sholat saat usia 10 tahun? Jeda waktu itu Allah beri agar kita bisa melatih anak kita terlebih dahulu
π‘ Orang tua jangan jadi preman pemalak kesholehan anak
• Meminta anak sholat, agar orangtuanya bisa masuk surga
• Meminta anak hafal Al-qur'an, agar orangtuanya diberi mahkota kemuliaan
Jangan egois, jangan berani menuntut seperti itu kepada anak JIKA kita tidak memberikan "modal" kepada anak.
Sebelum menuntut itu, sudahkah kita menceritakan kisah Asmaul Husna? Sudahkah kita menceritakan kisah 25 Nabi? Jika itu saja belum, maka kita tidak berhak menuntut anak jadi anak yang sholih
π‘ Pesan penting untuk orang tua:
π Rajin belajar, carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Ingat rumus jika kita berhenti belajar, maka akan berhenti kebaikannya
π Sediakan waktu untuk bersama anak
Sebagai contoh menerapkan program 18-21. Yaitu sejak pukul 18.00 sampai pukul 21.00 setiap harinya digunakan sebagai waktu keluarga. No gadget. Gunakan untuk mengaji/ta'lim, untuk berbicara, untuk bermain, untuk bercerita dan hal-hal positif lain bersama anak.
Semoga bermanfaat, semoga Allah mudahkan kita untuk menjadi orang tua sholih. Aamiin.
Love,
dienemon
![]() |
| Foto diambil dari Grup Parenting TK Khalifah 1 Bandung |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar