Sabtu, 13 Januari 2018
Proyek 6: Naik Angkot, Yuk!
Pagi ini saya ada agenda rutin pengajian. Kali ini saat suami masuk kerja pagi sehingga saya dan Kaysan tidak bisa diantar ke tempat pengajian. Alhamdulillah jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Saya biasanya memesan ojeg online untuk bisa pergi kesana.
Selesai pengajian, saya dan Kaysan menuju Cimahi karena ada jadwal Posyandu Kaysan disana. Biasanya lagi, demi alasan kenyamanan, keamanan, kepraktisan, saya juga memesan taksi online. Tapi kemarin saya ingin mencoba mengajak Kaysan naik angkot untuk bisa sampai ke Cimahi.
Saya pun menyampaikan rencana saya pada Kaysan, bahwa kami akan pergi ke rumah nenek menggunakan angkot. Kaysan yang memang senang jika bisa naik angkot pun langsung setuju. Mengawali perjalanan dengan mengucap bismillah, kami pun menaiki angkot pertama. Angkot ini akan mengantarkan kami ke pertigaan Cangkorah dimana disana kami bisa naik angkot yang menuju Baros. Kaysan yang terlalu bersemangat dan angkot kebetulan dalam keadaan kosong, ingin berpindah-pindah tempat duduk. Saya pun memberitahunya untuk hati-hati karena angkot dalam keadaan sedang bergerak maju. Tak lama, angkot pun sampai. Saya dan Kaysan harus menyebrang jalan. Alhamdulillah Allah mudahkan karena jalanan sedang lengang. Saat menyebrang, Kaysan menggerakkan tangannya, seolah sedang memberhentikan mobil-mobil. Hehehe...
Kami harus sedikit berjalan menuju angkot yang siap pergi. Kaysan bertanya mengapa kami tidak menaiki angkot terdekat yang ada di terminal itu. Kesempatan saya untuk menjelaskan hal baru pada Kaysan. Bahwa angkot-angkot itu sedang mengantri. Mereka bergiliran, angkot mana yang akan lebih dahulu berangkat. Jadi kita tidak bisa sembarangan memilih angkot mana yang akan dinaiki jika sedang di terminal.
Alhamdulillah, angkotnya tak lama berangkat. Saat melihat jalan pintas yang biasa kami lewati saat menuju Baros, Kaysan berkata: "Ummi, ini yang mau ke tempat mudun kan mi? Berarti tadi teh Cangkorah mi disana teh..." Ya, Kaysan sudah bisa mengingat jalur-jalur yang sering kami lewati dan akhirnya tadi mengambil kesimpulan.
Sampai di Baros, kami kembali harus menyebrang jalan. Alhamdulillah, Allah mudahkan lagi. Jalanan sedang lengang dan Kaysan lagi mempraktekkan tangannya seperti menyetop mobil-mobil. Sambil berjalan kaki menuju rumah nenek, saya pun membahas alhamdulillah perjalanan kami tadi lancar. Dimulai dari menyebrang jalannya mudah, angkotnya tidak berhenti lama, juga cuaca yang sebenarnya mendung tapi tak sampai hujan. Kaysan juga mendapat ilmu baru, bahwa kita tak bisa sembarang menaiki angkot di terminal. Kaysan juga belajar budaya antri. Belajar juga berterimakasih pada bapak-bapak supir yang telah mengantarkan kami.
Selesai pengajian, saya dan Kaysan menuju Cimahi karena ada jadwal Posyandu Kaysan disana. Biasanya lagi, demi alasan kenyamanan, keamanan, kepraktisan, saya juga memesan taksi online. Tapi kemarin saya ingin mencoba mengajak Kaysan naik angkot untuk bisa sampai ke Cimahi.
Saya pun menyampaikan rencana saya pada Kaysan, bahwa kami akan pergi ke rumah nenek menggunakan angkot. Kaysan yang memang senang jika bisa naik angkot pun langsung setuju. Mengawali perjalanan dengan mengucap bismillah, kami pun menaiki angkot pertama. Angkot ini akan mengantarkan kami ke pertigaan Cangkorah dimana disana kami bisa naik angkot yang menuju Baros. Kaysan yang terlalu bersemangat dan angkot kebetulan dalam keadaan kosong, ingin berpindah-pindah tempat duduk. Saya pun memberitahunya untuk hati-hati karena angkot dalam keadaan sedang bergerak maju. Tak lama, angkot pun sampai. Saya dan Kaysan harus menyebrang jalan. Alhamdulillah Allah mudahkan karena jalanan sedang lengang. Saat menyebrang, Kaysan menggerakkan tangannya, seolah sedang memberhentikan mobil-mobil. Hehehe...
Kami harus sedikit berjalan menuju angkot yang siap pergi. Kaysan bertanya mengapa kami tidak menaiki angkot terdekat yang ada di terminal itu. Kesempatan saya untuk menjelaskan hal baru pada Kaysan. Bahwa angkot-angkot itu sedang mengantri. Mereka bergiliran, angkot mana yang akan lebih dahulu berangkat. Jadi kita tidak bisa sembarangan memilih angkot mana yang akan dinaiki jika sedang di terminal.
Alhamdulillah, angkotnya tak lama berangkat. Saat melihat jalan pintas yang biasa kami lewati saat menuju Baros, Kaysan berkata: "Ummi, ini yang mau ke tempat mudun kan mi? Berarti tadi teh Cangkorah mi disana teh..." Ya, Kaysan sudah bisa mengingat jalur-jalur yang sering kami lewati dan akhirnya tadi mengambil kesimpulan.
Sampai di Baros, kami kembali harus menyebrang jalan. Alhamdulillah, Allah mudahkan lagi. Jalanan sedang lengang dan Kaysan lagi mempraktekkan tangannya seperti menyetop mobil-mobil. Sambil berjalan kaki menuju rumah nenek, saya pun membahas alhamdulillah perjalanan kami tadi lancar. Dimulai dari menyebrang jalannya mudah, angkotnya tidak berhenti lama, juga cuaca yang sebenarnya mendung tapi tak sampai hujan. Kaysan juga mendapat ilmu baru, bahwa kita tak bisa sembarang menaiki angkot di terminal. Kaysan juga belajar budaya antri. Belajar juga berterimakasih pada bapak-bapak supir yang telah mengantarkan kami.
Love,
dienemon
#tantangan_hari_ke_6
#kelasbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa


Tidak ada komentar:
Posting Komentar