Batujajar
Kamis, 29 Maret 2018
Kuliah Bunda Sayang telah memasuki game level 6. Apa topik yang dibahas? Menstimulasi matematika pada anak. Mengutip beberapa kalimat dari materi tantangan:
🎈Matematika bukan hanya soal angka dan hitungan namun ada juga hubungannya dengan kelogisan berpikir dan pemecahan masalah.
🎈Matematika tersebar di sekitar kita, seperti saat hebohnya bersama anak-anak mencari sesuatu yang berbentuk bulat di dalam rumah, semua berlarian, melihat sekeliling dan berebutan menyebutkan benda yang ditemukannya.
🎈 Atau kakak mulai kebingungan karena uang saku kian menipis, dan mencari jalan keluar untuk lebih hemat
🎈 Atau saat indahnya si kecil memotong kue supaya cukup dibagi bersama kakak-kakaknya.
🎈 Atau saat cerianya bersama anak-anak menghitung jumlah langkah kaki ke mesjid terdekat.
🎈 Saat bunda mengklasifikasi wadah bumbu di dapur, dan seterusnya
Ya, ternyata matematika ada di sekitar kita ya...
Kemudian menurut materi yang didapat di level 6 ini, ada beberapa ciri anak dengan kecerdasan matematika logis. Yaitu sebagai berikut:
a. Anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut
b. Mengamati benda-benda yang unik baginya
c. Hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba
d. Sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan.
e. Suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung
Dari ciri-ciri tersebut, saya menilai hampir semua ada pada diri Kaysan terutama di poin a dan d. Dan belakangan ini, salah satu yang disebutkan dalam poin e pun mulai terlihat, dia gemar berhitung.
Momennya diawali ketika saya lihat dia mulai konsisten mampu berhitung dengan jarinya. Setelah itu, saya tertantang mencoba mengenalkannya pada konsep penambahan dan pengurangan menggunakan alat bantu jari-jari tangannya. Materinya adalah hal-hal yang ditemui setiap hari. Misal saya menanyakan sisa kue yang sudah dia makan, menanyakan jumlah mainan, dll. Respon Kaysan ternyata sangat antusias. Alhamdulillah. Sejak itu setiap ada kesempatan saya selalu mencobanya. Sering juga Kaysan terlebih dulu yang mengajak berhitung.
Dan AHA! Hari ini saya mendapat kesempatan untuk kembali melatih kecerdasan matematika Kaysan. Cerita berawal ketika Kaysan meminta izin untuk dibolehkan memakan cokelat yang dibelikan abinya. Dan seperti biasa, memang kami selalu berbagi. Kaysan tahu bahwa ia tidak boleh menghabiskan cokelat itu sendirian. Dia mengambil satu kotak cokelat, saya juga mengambil satu kotak. Lalu saya tersadar ini momen yang tak boleh dilewatkan
"Kaysan sebentar, cokelatnya ada berapa ya tadi awalnya?
"Satu..dua.. (menunjuk posisi awal cokelat yang sudah dimakan, haha...) tiga..empat..lima..enam.. (menunjuk cokelat yang tersisa). Ada 6 mi cokelatnya!"
"Okey. Tadi sudah dimakan berapa ya?"
"Ummi satu, aku satu. Udah dimakan dua!"
"Jadi sekarang sisa berapa cokelatnya?"
"Empat!"
"Iya bener, jadi 6 dikurangi 2 sisanya ..."
"Empat"
"Aku mau lagi mi, boleh ngga?"
"Eh sebentar, cukup ngga ya? Abi belum kebagian tuh. Kita bisa kebagian berapa ewang ya?"
"Sebentar aku itung dulu mi... Ini kan ummi udah makan 1, aku 1 (lagi-lagi menunjuk posisi awal cokelat pada bungkusnya), ini aku 2, ummi 2, ini yang untuk Abi 1 awal, ini yang Abi 1 akhir (menunjuk berurutan setiap kotak cokelat yang tersisa). Cukup mi, jadi dua ewang!"
"Wah iya bener, yaudah boleh satu lagi berarti. Yang untuk Abi kasih ke Abi ya.."
Begitulah percakapan yang terjadi tadi yang diinisiasi oleh saya. Lalu saat makan siang, terjadi percakapan serupa yang kali ini Kaysan yang memulainya sendiri.
Kaysan makan siang dengan sate telur puyuh dan sate ati yang dibelinya tadi pagi di rumah nenek sebelum kami pulang ke rumah. Kami membeli 3 tusuk sate telur puyuh. Saat di rumah nenek, saya meminta satu tusuk sate dan Kaysan mengiyakan. Tapi sepertinya tadi dia sedikit terlupa. Lalu bertanya
"Ummi, koq sate aku tinggal dua? Kan aku belinya tiga?"
"Kan tadi ummi udah izin minta satu tusuk waktu di rumah nenek, jadi sekarang sisa dua kan?"
"Oh iya"
Kaysan lalu melanjutkan makannya, begitu juga dengan saya. Tak lama kemudian dia tiba-tiba berkata:
"Ummi, tadi telur puyuhnya asalnya ada 10, terus aku udah makan jadi sekarang tinggal 5. Oh iya... Kaysan udah makan satu tusuk. Satu tusuk ada berapa telurnya, Kei?"
"Ada lima"
"Iya bener. Jadi 10 dikurangi 5 sisa berapa ya?" (Sambil memperagakannya dengan jari-jari saya)
"Lima!"
Alhamdulillah, hari ini Kaysan belajar mengasah kemampuan matematikanya dengan menghitung jumlah cokelat dan telur puyuh.
Love,
dienemon
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs


Tidak ada komentar:
Posting Komentar